Waspada KLB Campak! Segera Lengkapi Imunisasi Anak Sebelum Terlambat

Dr. Dominicus Husada, Sp.A(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)

KANALSATU — Wabah campak kembali mengancam anak-anak Indonesia. Hingga Agustus 2025, Kementerian Kesehatan mencatat 46 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak terjadi di berbagai wilayah.

Sumenep, Jawa Timur menjadi salah satu daerah terparah — 2.139 kasus suspek dan 205 kasus terkonfirmasi, bahkan menyebabkan 20 kematian anak.

Menurut data, campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia, bahkan lebih cepat menyebar dibandingkan COVID-19. Satu orang pengidap campak bisa menulari hingga 18 orang lain, sementara COVID-19 rata-rata hanya menular ke 1–6 orang.

Penularan terjadi melalui udara saat penderita batuk, bersin, atau bahkan hanya bernapas. Gejalanya awalnya sering disalahartikan sebagai flu — seperti demam, batuk, dan pilek — sebelum berkembang menjadi ruam di seluruh tubuh dan bisa menyebabkan komplikasi berat seperti pneumonia, diare parah, hingga radang otak (ensefalitis) yang berisiko menimbulkan kecacatan permanen atau bahkan kematian.

Meskipun sangat menular dan berbahaya, campak sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Sayangnya, cakupan imunisasi campak di Indonesia masih jauh dari target ideal sebesar 95%, yang dibutuhkan untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Dr. Dominicus Husada, Sp.A(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa anak-anak perlu mengikuti jadwal imunisasi campak-rubella (MR) atau MMR secara lengkap.

Dosis pertama diberikan saat anak berusia 9 bulan dengan vaksin MR. Kemudian, imunisasi dilanjutkan dengan dosis kedua pada usia 15 hingga 18 bulan.

Setelah itu, anak dianjurkan untuk menerima dosis ketiga atau booster ketika berusia antara 5 hingga 7 tahun. Jika seorang anak belum mendapatkan vaksin MR hingga usia 12 bulan, maka vaksin MMR dapat diberikan sebagai dosis pertama.

Di Indonesia, dosis kedua vaksin MMR diberikan dengan jarak 6 bulan, lalu diulang sekali lagi pada usia 5–7 tahun. Anak yang telah menerima vaksin MR pada usia 9 bulan juga tetap bisa mendapatkan vaksin MMR sebagai booster pada usia 18 bulan.

"Dengan mengikuti seluruh rangkaian imunisasi tersebut secara tepat waktu, anak-anak memiliki peluang jauh lebih besar untuk terlindungi dari campak, sekaligus mengurangi risiko komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit gondongan maupun rubella," kata dr. Dominicus.

Guna mencegah penyebaran campak, dr. Dominicus juga mengimbau orang tua untuk mengambil langkah preventif. Salah satu cara penting adalah menghindari kontak langsung antara anak-anak dan penderita campak, mengingat penyakit ini sangat mudah menular bahkan hanya melalui udara.

Selain itu, menjaga kebersihan diri dan lingkungan sangat penting, termasuk mencuci tangan secara rutin dan memastikan ventilasi ruangan tetap baik agar sirkulasi udara berjalan lancar.

Upaya lainnya adalah meningkatkan daya tahan tubuh anak dengan menerapkan pola hidup sehat. Asupan gizi seimbang, tidur yang cukup, serta aktivitas fisik teratur merupakan faktor pendukung yang tidak boleh diabaikan. Namun yang paling krusial, orang tua harus memastikan bahwa anak-anak mendapatkan imunisasi MMR sesuai jadwal yang dianjurkan oleh IDAI.

MSD Indonesia, sebagai mitra aktif Kementerian Kesehatan, turut mendukung kampanye pencegahan campak di Indonesia. Country Medical Lead MSD Indonesia Dr. Amrilmaen Badawi, menyampaikan bahwa lonjakan kasus KLB campak harus menjadi peringatan serius bagi seluruh masyarakat.

Ia menekankan pentingnya tindakan pencegahan sejak dini dan mengajak para orang tua untuk tidak menunggu hingga anak menunjukkan gejala.

"Cukup mulai dari hal sederhana, yaitu memeriksa kembali buku imunisasi anak, pastikan seluruh dosis vaksin MR dan MMR telah diberikan sesuai jadwal, dan konsultasikan ke fasilitas kesehatan bila ada yang belum lengkap," jelasnya. (KS-5)
Komentar