Warisan dari Ayah, Nomor Telkomsel 11 Digit Setia Menemani Frizal di Berbagai Medan

Nur Frizal, pelanggan Telkomsel yang setia selama 26 tahun. Nomor pemberian sang ayah menemaninya bertugas di berbagai pelosok daerah di Indonesia.

KANALSATU - Bagi Nur Frizal, sebuah nomor ponsel bukan sekadar deretan angka untuk terhubung dengan orang lain. Lebih dari itu, nomor Telkomsel yang ia gunakan sejak 1999 telah menjadi saksi perjalanan panjangnya sebagai jurnalis, sekaligus teman setia yang menemaninya dalam berbagai penugasan penting.

“Nomor ini pemberian ayah saya. Waktu itu harganya sekitar Rp800–900 ribu, saya pakai di ponsel Nokia 5110. Sampai sekarang masih saya gunakan,” kenang pria asli Jakarta ini.  

Nomor yang ia sebut sebagai “warisan” itulah yang kemudian membawanya melintasi daerah-daerah terpencil di Indonesia. Dari barat di Pulau Nias, timur di Jayapura, hingga selatan di Pulau Alor, Telkomsel selalu menjadi andalan.

Frizal mulai berkarier sebagai wartawan pada 2002 dan bergabung dengan Jawa Pos setahun kemudian. Dunia jurnalistik membawanya ke medan liputan ekstrem, termasuk saat bencana besar melanda Indonesia.

Ia masih ingat jelas pengalaman saat meliput gempa Nias dan gempa Padang 2009. Kala itu, teknologi belum semaju sekarang. Untuk mengirim foto, ia harus menggunakan modem dengan pulsa isi ulang fisik senilai Rp200 ribu sekali isi.

“Sehari paling bisa kirim dua foto. Total sebulan lebih tugas di sana, habis sekitar satu setengah juta rupiah. Kadang harus menunggu jam tertentu ketika sinyal bagus, atau dekat kantor Telkom agar sinyalnya bagus,” ujarnya.

Namun di tengah keterbatasan itu, Telkomsel tetap menjadi jembatan penghubung antara dirinya dengan redaksi di kantor serta keluarga di rumah.  

Seiring perkembangan teknologi, pengalaman Frizal dengan nomor Telkomsel juga ikut berevolusi. Jika dulu hanya bisa mengandalkan SMS dan panggilan suara yang kadang tersendat, kini ia bisa mengunggah foto, mengirim pesan lewat WhatsApp, hingga berselancar di media sosial—bahkan saat berada di tengah laut Jawa.

Ia pun menceritakan pengalamannya saat ditugaskan meliput pengiriman bantuan bahan pokok ke Pulau Bawean, Jawa Timur. Berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak sekitar pukul 19.00 malam, ia sampai di pelabuhan Pulau Bawean sekitar jam 1 dini hari. 
 
“Jam 9–10 malam di tengah laut, sinyal masih ada. WhatsApp lancar, Instagram juga bisa di-scroll,” ujar pria yang merantau ke Surabaya sejak tahun 2002 ini.

Meski pernah merasakan kesulitan jaringan di beberapa titik seperti Manokwari, secara umum Frizal mengaku puas dengan layanan Telkomsel. Terutama karena jaringannya bisa menjangkau daerah-daerah terpencil yang menjadi lokasi liputannya.

Ikatan yang Sulit Digantikan

Bagi Frizal, kesetiaan menggunakan satu nomor selama lebih dari dua dekade bukan sekadar kebiasaan, tapi sebuah keterikatan emosional. Nomor pemberian ayahnya itu sudah menjadi bagian dari hidupnya, sekaligus penghubung setia dengan dunia kerja dan keluarga.

“Nomor ini sudah ikut saya ke mana pun. Dari gempa besar, perjalanan ke pelosok, sampai sekadar ngobrol dengan teman dan keluarga. Sulit tergantikan,” ujarnya.

Lebih dari sekadar alat komunikasi, nomor Telkomsel milik Nur Frizal adalah cerita tentang konsistensi, perjuangan, dan kesetiaan—sebuah kisah yang menunjukkan bagaimana teknologi bisa menjadi sahabat paling setia di tengah dinamika kehidupan.

Pelanggan Menjadi Penyemangat

Bagi Telkomsel, pelanggan bukan sekedar pembeli produk. "Pelanggan bukan hanya sekedar pembeli produk, tetapi merupakan sumber kehidupan bagi perusahaan dan juga semangat untuk terus melakukan improvisasi setiap harinya, untuk menghadirkan layanan terbaik, serta melahirkan beragam inovasi. Tanpa adanya pelanggan, kecanggihan jaringan ataupun layanan tidak berarti apa-apa," ujar Manager Customer Care Operations Region Jawa Timur Telkomsel Isnijazatun Indriastuti.

Menurutnya, kepercayaan pelanggan menjadi alasan untuk senantiasa menghadirkan layanan terbaik, terus memberikan improvisasi dari setiap langkah dan layanan melalui produk dan kualitas jaringan yang handal dan optimal.

Untuk menjaga loyalitas pelanggan, Isnijazatun menuturkan, Telkomsel secara konsisten menghadirkan beragam program loyalty bagi pelanggan setianya mulai dari hadiah menarik hingga pengalaman layanan istimewa. 

Beberapa program yang diluncurkan untuk pelanggan lama di antaranya Telkomsel Prestige. Ini merupakan program loyalitas eksklusif untuk pelanggan minimal 6 bulan dan dengan transaksi penggunaan tertentu. Benefitnya mulai dari akses gratis ke airport lounge, promo eksklusif di bioskop, layanan prioritas di GraPARI dan sebagainya.

Kemudian Program Undi-Undi Hepi, dengan menukarkan Telkomsel Poin mendapat beragam kesempatan untuk memenangkan hadiah mulai dari mobil, HP, sepeda motor, voucher internet dan belanja, hingga beragam hadiah lainnya.

"Ada juga Poin Gembira Festival, penukaran Telkomsel Poin menjelang akhir tahun dengan beragam hadiah menarik. Lalu Hari Pelanggan Nasional, dengan memberikan apresiasi dan sejumlah program dengan diskon menarik serta Loyalty Poin Discaount Payment untuk Kartu Halo & Indihome, dengan menukarkan 10.000 poin akan mendapat potongan senilai Rp20 ribu," pungkasnya. 

Hingga saat ini, total ada 158 juta pelanggan Telkomsel di seluruh Indonesia. 

Kisah Frizal menjadi cerminan bagaimana Telkomsel melihat setiap pelanggan sebagai mitra perjalanan, bukan sekadar angka statistik. Dengan menghadirkan jaringan yang menjangkau pelosok, layanan yang konsisten, dan program apresiasi khusus, Telkomsel ingin memastikan bahwa setiap pelanggan lama tetap merasa dihargai dan didampingi dalam setiap langkah hidupnya. (KS-5)

Komentar