Merdeka Copper Gold Dorong Transformasi Tambang Nasional Menuju Ekonomi Hijau

Head of Corporate Communication Merdeka Group, Tom Malik

KANALSATU – Sektor pertambangan tetap menjadi penopang penting perekonomian Indonesia. Pada 2024, kontribusi sektor ini mencapai Rp2.090 triliun atau sekitar 9,44 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional senilai Rp22.139 triliun. 

Di balik capaian itu, tantangan besar masih terbentang yaitu bagaimana menambang tanpa merusak lingkungan dan tetap memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Indonesia sendiri berada di jajaran atas produsen mineral dunia. Negeri ini menempati peringkat pertama global dalam produksi dan cadangan nikel dengan total produksi 1,8 juta ton dan cadangan mencapai 55 juta ton. 

Selain itu, Indonesia juga menduduki peringkat ketiga dalam produksi timah, kelima untuk emas, serta keenam untuk tembaga, batu bara, dan bauksit.

Di tengah potensi besar tersebut, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tampil sebagai pelaku industri yang mengedepankan prinsip pertambangan berkelanjutan. 

Melalui anak usahanya—PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS)—grup ini mengelola komoditas emas, tembaga, nikel, hingga kobalt, serta membangun fasilitas pengolahan mineral bernilai tambah di dalam negeri.

Saat ini, Merdeka Group mengelola sumber daya mineral yang signifikan: 36,4 juta ons emas, 8,5 juta ton tembaga, 13,8 juta ton nikel, dan 1 juta ton kobalt. 

“Pertambangan bukan sekadar menggali sumber daya, tetapi juga menjaga bumi dan menciptakan nilai bagi generasi mendatang,” ujar Head of Corporate Communication Merdeka Group, Tom Malik di Surabaya, Selasa (21/10/2025) sore.

Era transisi energi global menempatkan industri tambang pada posisi strategis. Mineral seperti nikel, tembaga, dan kobalt menjadi tulang punggung produksi kendaraan listrik (EV) dan teknologi energi bersih. Tom menjelaskan, satu mobil listrik membutuhkan hingga enam kali lebih banyak mineral dibanding mobil konvensional.

Namun, menurutnya, perjalanan menuju ekonomi hijau masih panjang. “Sekitar 81 persen listrik Indonesia masih berasal dari bahan bakar fosil. Untuk beralih ke energi bersih dibutuhkan ekosistem yang lengkap—mulai dari bahan baku, teknologi, hingga tata kelola lingkungan yang kuat,” ungkap Tom.

Merdeka Group menjadi salah satu pionir penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di industri tambang nasional. Sejak 2018, MDKA secara rutin menerbitkan Laporan Keberlanjutan yang menyoroti kinerja dan dampak sosial-lingkungan perusahaan.

Upaya tersebut mendapatkan pengakuan internasional. Merdeka meraih peringkat MSCI ESG ‘A’, menjadikannya satu-satunya perusahaan tambang logam terdiversifikasi Indonesia yang mencapai level tersebut. 

Selain itu, perusahaan juga menduduki peringkat pertama nasional dalam Risiko ESG Sustainalytics, serta masuk ke dalam indeks ESG Sector Leaders IDX KEHATI dan ESG Quality 45 IDX KEHATI di Bursa Efek Indonesia.

Merdeka juga menerima peringkat ‘B’ dari CDP (Carbon Disclosure Project) untuk pelaporan tahun 2024, yang menegaskan komitmen perusahaan terhadap transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dampak iklim.

“Keberlanjutan bukan sekadar kewajiban regulasi, melainkan bagian dari budaya perusahaan. Kami ingin tumbuh bersama masyarakat tanpa meninggalkan bumi yang memberi kehidupan,” ujar Tom.
(KS-5)

Komentar