Kang Ebit, Api Kecil dari Tuban yang Menyalakan Energi Hijau Nusantara

KANALSATU – Di ujung Desa Kapu, Kecamatan Merakurak, Tuban, dengung mesin extruder bukan sekadar suara bising, melainkan melodi denyut ekonomi baru. Dari limbah kulit siwalan yang dulunya hanya ditumpuk hingga membusuk, kini justru menjadi "emas hitam" berdaya ekspor.
Berkat Program Kang Ebit (Kampung Eco Briket) yang diinisiasi Pertamina Patra Niaga, kini permasalahan limbah bisa teratasi. Kesejahteraan masyarakat juga ikut terangkat.
Siang itu, cahaya matahari memang tidak begitu terik. Namun udara yang lembab cukup membuat gerah. Dari sebuah bangunan semi permanen yang berfungsi sebagai bengkel produksi, terdengar deru mesin extruder yang bekerja tanpa henti.
Semua pekerja melakukan tugasnya secara cekatan. Telinga mereka tertutup headphone untuk meredam bisingnya suara mesin.
Energi yang menyala dari ujung desa ini bermula pada 1996 ketika dua siswa SMK Negeri 1 Tuban, Latif Wahyudi dan Muhammad Muzaini meneliti pemanfaatan limbah siwalan menjadi bahan bakar. Riset kecil ini membawa mereka menjadi pemenang Karya Ilmiah Remaja (KIR) di Kabupaten Tuban pada tahun 1996.
Setelah menang di lomba tersebut, mereka melanjutkan risetnya dan kembali mengikuti lomba dengan skala yang lebih besar. Pada 2021, keduanya berhasil meraih juara pertama di dua kompetisi inovasi daerah yaitu Tuban Berinovasi yang diselenggarakan Pemkab Tuban dan Inotech Jatim gelaran BRIDA Provinsi Jawa Timur. Uang pembinaan sebesar Rp18 juta mereka gunakan untuk membeli mesin produksi pertama.
Setahun kemudian, pada Oktober 2022, mereka resmi memulai produksi briket dengan merek Miracle Carbon Indonesia (MCI). Modal terbatas membuat mereka harus kreatif mencari cara untuk mengembangkan usaha. Hingga akhirnya mereka memberanikan diri berutang sebesar Rp40 juta. Namun, langkah tanpa perhitungan yang tepat ini justru membuat mereka menderita rugi besar.
Meskipun mengalami kegagalan, keduanya tidak menyerah. Apalagi melihat permintaan pasar yang ternyata terus tumbuh. Dari yang awalnya pembeli hanya dari sekitar Tuban, pelan namun pasti permintaan dari beberapa kota mulai mengalir.
Latif menuturkan, di awal, briket produksi mereka dipasarkan untuk peternak sebagai penghangat kandang ayam broiler. "Sebelumnya, peternak menggunakan LPG sebagai bahan bakar penghangat. Namun kemudian ada kebijakan pemerintah melarang penggunaan LPG subsidi untuk usaha," tutur founder MCI ini.
Hal ini mendorong peternak beralih ke briket sebagai sumber panas alternatif. Ternyata, penggunaan briket sebagai penghangat ayam juga lebih efisien. Bahkan penghematannya bisa sampai sekitar 40 persen.
Namun, karena siwalan sulit dijumpai di luar musim kemarau, Latif dan Muzaini kemudian memikirkan bahan baku lainnya. Hingga akhirnya mereka menemukan tiga bahan baku lainnya yaitu batok kelapa, kayu asam, serta bonggol jagung.
Keragaman bahan baku ini menurut Latif merupakan upaya untuk menjawab kebutuhan pasar. Ia mencontohkan, untuk restoran biasanya digunakan briket berbahan batok kelapa murni. Tentu harganya lebih mahal yaitu sekitar Rp22 ribu per kilogram.
Sedangkan untuk pasar lain, briket campuran kulit siwalan dan batok kelapa dijual mulai Rp4 ribu per kilogram. Industri lain yang menggunakan briket adalah peleburan atau penyepuhan baja.
Dilirik Pertamina, Kang Ebit Bermula
Produksi briket mereka kemudian semakin berkembang ketika Oktober 2023, Pertamina Patra Niaga mulai melirik MCI sebagai mitra binaan dan program Kang Ebit (Kampung Eco Briket) mulai bergulir.
"Waktu itu Pertamina Patra Niaga membantu satu lagi mesin extruder. Dengan dua mesin, kapasitas produksi kami semakin bertambah besar. Dari yang awalnya 200kg/ hari, bisa naik 300-400kg/hari," tutur Latif yang juga Ketua Program Kang Ebit.
Sekarang, produksi briket di sini sudah mencapai 700kg/hari. “Itu minimal. Kalau PO sedang padat bisa 900 kg/ Hari. Musim hujan di akhir tahun permintaan memang tinggi karena peternakan seperti kandang ayam butuh penghangat, resto-resto juga menambah stok karena jelang akhir tahun biasanya ramai dan mereka mengantisipasi terhambatnya pengiriman,” kata pria kelahiran 1999 ini.
Dengan adanya program Kang Ebit, MCI bisa menjawab kebutuhan pasar. Produk briket dari Tuban ini sudah merambah ke Pandaan, Surabaya, Sidoarjo, bahkan ke Bali. Selain itu permintaan dari NTB, NTT, Timika dan Maluku juga terus berdatangan. Melalui mitra dagang, briket mereka kini menembus pasar ekspor ke Timor Leste dan India.
Dengan dukungan Pertamina Patra Niaga, Latif optimistis, usaha mereka akan semakin berkembang dan bisa memberikan dampak positif ke masyarakat sekitar. Salah satunya dalam hal kesempatan kerja.
Sekarang sudah ada 12 pekerja yang terlibat dalam program Kang Ebit ini. Enam di antaranya adalah pemuda di bidang produksi dan enam lainnya ibu rumah tangga yang membantu proses pengemasan.
Khusus di bidang produksi, Latif mensyaratkan pendidikan maksimal SMA atau SMK. “Di sini ada dua orang yang lulusan SD. Kami memang ingin memberi kesempatan kepada mereka yang kurang beruntung secara pendidikan,” jelasnya.
Salah satu dari mereka, Eko Budi Prasetya, mengaku kehidupannya kini lebih baik. “Dulu saya kerja di toko mainan di kota. Gajinya kecil, habis buat bensin. Sekarang pendapatan saya bisa lebih besar karena tidak perlu keluar uang bensin,” kata Budi.
Membangun Ekosistem Energi Hijau
Terpisah, Community Development Officer (CDO) Pertamina Fuel Termina Tuban, Sukmayadevi menuturkan sejak 2023 hingga saat ini Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tuban sudah melakukan pendampingan dan memberikan fasilitas penunjang untuk Program Kang Ebit.
“Mulai dari pelatihan, kegiatan benchmarking, promosi, keikutsertaan pada bazar, sarana APD (Alat Pelindung Diri), meja packing, mesin, alat jemur serta alat pirolisis. Selain itu juga pembangunan workshop, sertifikat paten, thermo gun serta uji lab,” kata Devi.
Fuel Terminal Manager Tuban, Rahmad Febriadi, mengatakan bahwa program ini adalah wujud nyata dukungan Pertamina terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). “Program Kang Ebit mendukung pengurangan limbah, pemanfaatan energi alternatif, dan pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat. Kami percaya, solusi terhadap tantangan sosial dan lingkungan harus datang dari akar rumput,” ujarnya.
Bagi Pertamina Patra Niaga, inisiatif seperti Kang Ebit menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem energi hijau berbasis masyarakat. Menurut Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus Ahad Rahedi, perubahan besar dalam transisi energi nasional harus dimulai dari level paling dasar—desa.
“Kami ingin membangun ekosistem energi hijau yang lahir dari masyarakat. Program seperti Kang Ebit tidak hanya mengurangi limbah, tapi juga memperkuat ekonomi lokal dan mengajarkan masyarakat tentang nilai keberlanjutan,” ujarnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Tuban, Alek Mashadi, menilai program ini sebagai bentuk inovasi berkelanjutan yang berdampak langsung bagi warga.
“Kehadiran briket ramah lingkungan ini bukan hanya solusi alternatif terhadap bahan bakar fosil, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal,” ujarnya.
Dengan semakin besarnya pasar, Latif optimistis masa depan bahan bakar briket ini akan cerah. “Selama pohon kelapa masih tumbuh di Indonesia, bahan bakar alternatif seperti briket ini akan selalu ada. Kami percaya, masa depan energi harus tumbuh dari desa,” kata Latif penuh keyakinan.
Kini, rata-rata produksi Kang Ebit mencapai 14 ton briket per bulan. Produk ini bukan sekadar pengganti bahan bakar, melainkan simbol dari perubahan, bagaimana limbah yang dulunya tak bernilai kini menjadi sumber energi dan penghidupan bagi warga desa. (KS-5)