Hadapi Gelombang AI, Apindo Tekankan Adaptasi dan Kesejahteraan Pekerja

KANALSATU — Dunia kerja Indonesia tengah memasuki babak baru seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mulai mengubah struktur pekerjaan dan hubungan industrial di berbagai sektor.
Isu ini menjadi bahasan utama dalam Industrial Relation Conference (IR Conference) ke-11 yang digelar Apindo Training Center (ATC) di Surabaya, Selasa (4/11/2025). Acara yang digelar selama tiga hari tersebut mempertemukan dunia usaha, akademisi, dan pemerintah untuk membahas arah hubungan industrial di tengah gelombang transformasi digital.
Ketua Umum DPN Apindo Shinta W. Kamdani menegaskan, tantangan hubungan industrial kini tak hanya terkait buruh dan perusahaan, tetapi juga kemampuan adaptasi terhadap teknologi.
“Otomasi dan digitalisasi telah mengubah dunia kerja. Jenis pekerjaan ikut bergeser, sehingga perusahaan dan tenaga kerja harus beradaptasi, terutama lewat peningkatan keterampilan,” ujarnya.
Menurut Shinta, literasi digital dan peningkatan kompetensi (upskilling) menjadi kunci utama menghadapi perubahan. Namun, ia juga mengingatkan agar transformasi digital tidak mengorbankan penciptaan lapangan kerja.
“Kita perlu menciptakan pekerjaan berkualitas, termasuk di sektor informal yang masih menjadi tulang punggung industri padat karya,” tambahnya.
Shinta menyoroti tiga fokus utama yang harus dijaga dalam semangat Indonesia Incorporated: mencegah PHK, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga daya saing industri.
Ia juga mengungkapkan sejumlah indikator ekonomi yang perlu diwaspadai, seperti turunnya penjualan kendaraan, melemahnya indeks kepercayaan konsumen, dan penurunan kinerja industri tekstil.
Dari sisi pemerintah, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengapresiasi peran Apindo sebagai jembatan dialog antara dunia usaha dan pemerintah. Ia menegaskan bahwa Indonesia telah berkomitmen dalam kerja sama internasional untuk menghadapi era AI.
“Kita sudah menandatangani Digital Economic Framework Agreement (DEFA) di ASEAN, dan di APEC ada AI Initiative yang menekankan prinsip Human-Centered AI — bahwa teknologi harus memberi manfaat bagi manusia, bukan sekadar efisiensi industri,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua DPP Apindo Jawa Timur Eddy Widjanarko menilai kemunculan AI adalah keniscayaan yang harus direspons secara adaptif.
“AI sudah menjadi masa depan industri. Dunia usaha perlu cepat beradaptasi agar tetap relevan dan berkelanjutan,” katanya.
Dari sisi ketenagakerjaan, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa produktivitas menjadi kunci dalam membangun hubungan industrial yang sehat di era digital.
“Sekitar 86 persen tenaga kerja Indonesia masih berpendidikan SD hingga SMA. Karena itu, peningkatan keterampilan menjadi langkah besar yang wajib dilakukan,” ujarnya secara daring.
Ia menekankan bahwa pemerintah berfokus pada program pelatihan berskala besar agar peningkatan kualitas tenaga kerja berdampak nyata pada daya saing nasional.
Konferensi yang dihadiri ratusan pelaku industri, akademisi, dan pejabat pemerintah ini menghasilkan satu kesimpulan penting: transformasi digital tak bisa dihindari, namun kesejahteraan manusia harus tetap menjadi pusat arah perubahan.
(KS-5)