Investasi Manufaktur Jadi Kunci Akselerasi Ekonomi Jawa, BI Dorong Kolaborasi Lintas Sektor

KANALSATU — Bank Indonesia menegaskan pentingnya penguatan investasi di sektor manufaktur sebagai motor utama akselerasi pertumbuhan ekonomi wilayah Jawa.
Dalam forum koordinasi yang digelar pada rangkaian Java Regional Economics Forum (JREF) 2025, BI bersama sejumlah kementerian dan lembaga membahas strategi konkret untuk memperkuat ekosistem investasi, mendorong efisiensi, dan mempercepat realisasi proyek strategis di kawasan industri Jawa.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, menekankan bahwa sektor manufaktur memegang peranan vital dalam struktur ekonomi nasional. Kontribusi wilayah Jawa terhadap PDB Indonesia yang besar menunjukkan bahwa penguatan investasi di daerah ini akan menjadi penentu keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kunci akselerasi ekonomi terletak pada kemampuan menciptakan ekosistem investasi yang kondusif, memperkuat konektivitas, serta memastikan tenaga kerja memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri,” ujar Ibrahim.
Menurut BI, terdapat tiga strategi utama untuk memperkuat investasi manufaktur, yakni optimalisasi infrastruktur dan konektivitas antarkawasan, sinkronisasi antara dunia kerja dan pendidikan vokasi, pemberian insentif serta perbaikan sistem perizinan, dan perluasan akses pembiayaan investasi melalui sinergi promosi lintas provinsi di Pulau Jawa.
Dari sisi pemerintah, Asisten Deputi Pengembangan Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Aneka Kemenko Perekonomian, Atong Soekirman, menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya menciptakan iklim investasi yang kompetitif.
Langkah tersebut dilakukan melalui penyederhanaan perizinan, pemberian insentif fiskal, dan penguatan kawasan ekonomi agar investasi tidak hanya tumbuh tetapi juga mampu menyerap tenaga kerja berkualitas di seluruh wilayah Jawa.
Sementara itu, Direktur Perencanaan SDA dan Industri Manufaktur Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Ratih Purbasari Kania, mengungkapkan bahwa realisasi investasi di wilayah Jawa hingga kuartal III 2025 telah mencapai Rp692,5 triliun atau 48% dari total nasional.
Capaian ini menegaskan bahwa Jawa masih menjadi magnet utama investasi nasional, terutama di sektor manufaktur pengolahan logam, makanan-minuman, dan kimia dasar.
“Fokus pemerintah kini adalah memastikan investasi yang masuk memiliki nilai tambah tinggi, berorientasi ekspor, dan berdaya saing global,” ujar Ratih.
Dari hasil pembahasan lintas provinsi, BI bersama kementerian terkait menyepakati beberapa langkah strategis untuk mempercepat penguatan investasi di Jawa.
Di antaranya adalah mempercepat pembangunan infrastruktur kawasan industri, meningkatkan kualitas SDM melalui pelatihan dan sertifikasi, memperkuat sinkronisasi kebijakan pusat-daerah untuk kemudahan berusaha, memperluas akses pembiayaan produktif dengan bunga kompetitif, serta memperkuat promosi investasi secara terintegrasi.
Kolaborasi lintas lembaga ini diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan sektor manufaktur yang menjadi tulang punggung ekonomi Jawa dan nasional.
Bank Indonesia menegaskan, sinergi kebijakan antara pemerintah pusat, daerah, lembaga keuangan, dan dunia usaha akan menjadi kunci dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang lebih akseleratif, inklusif, dan berkelanjutan.
(KS-5)