PGE Jadikan Kamojang Pusat Inovasi Panas Bumi dan Model Transisi Energi Nasional

KANALSATU – Di tengah upaya global menuju energi bersih, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) terus mengukuhkan peran Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Kamojang sebagai episentrum inovasi panas bumi di Indonesia. Tak hanya menjadi tulang punggung pasokan energi hijau, Kamojang kini juga tumbuh sebagai laboratorium hidup transisi energi dan pemberdayaan masyarakat.
General Manager PGE Area Kamojang, I Made Budi Kesuma Adi Putra, menyebut Kamojang sebagai bukti nyata bagaimana energi panas bumi mampu menopang ketahanan energi sekaligus membawa manfaat sosial.
“Kamojang bukan hanya catatan sejarah sebagai pionir panas bumi di Indonesia, tapi juga simbol masa depan energi bersih. Kami ingin Kamojang menjadi pusat inovasi yang menunjukkan bahwa energi hijau bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
PGE tak berhenti pada pengembangan energi. Melalui inovasi Digital Rangers App, masyarakat sekitar dilibatkan langsung sebagai mitra ekonomi digital. Mereka menyediakan layanan transportasi dengan motor listrik bertenaga panas bumi, hingga memanfaatkan platform daring untuk promosi wisata dan penjualan produk lokal.
Inovasi pemanfaatan panas bumi juga mengubah wajah pertanian setempat. Dengan teknologi Geothermal Dry House pertama di dunia, petani kopi Kamojang kini mampu memangkas waktu pengeringan dari lebih dari sebulan menjadi hanya sekitar seminggu. Dampaknya, pendapatan petani melonjak hingga tiga kali lipat, dan kopi Kamojang telah menembus pasar Jepang, Korea, dan Eropa.
Selaras dengan visi lingkungan, PGE bersama BBKSDA Jawa Barat dan Raptor Indonesia menjaga kelestarian Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), satwa langka berkecepatan terbang hingga 300 km/jam. Sejak 2014, sudah 153 Elang Jawa dilepasliarkan dari total 392 yang dikonservasi di Pusat Konservasi Elang Kamojang.
Tak berhenti di situ, program GEMAH KARSA (Geothermal Empowerment for Maximizing Agriculture through Kamojang Responsible and Sustainable Farming) kini memberdayakan 2.647 warga dari kelompok rentan melalui pertanian berkelanjutan berbasis energi panas bumi, akses air bersih, dan produksi pupuk organik.
“Kami memastikan bahwa pertumbuhan bisnis PGE selalu berjalan seiring dengan kemajuan sosial ekonomi masyarakat sekitar,” tegas Made Budi.
Pusat Panas Bumi Tertua yang Terus Berinovasi
Kamojang merupakan wilayah panas bumi tertua di Indonesia, yang pertama kali dieksplorasi pada 1926 oleh Belanda. Pertamina mulai mengelolanya sejak 1974 dan mengoperasikan PLTP Kamojang pertama pada 1983. Kini, lima unit PLTP dengan total kapasitas 235 MW menghasilkan listrik yang cukup untuk lebih dari 260.000 rumah tangga per tahun—tanpa tergantung pada cuaca atau bahan bakar fosil.
Hingga September 2025, Kamojang telah menghasilkan listrik sebesar 1.326 gigawatt hour (GWh) dan menurunkan emisi karbon sebesar 1,22 juta ton CO? per tahun.
Dalam jangka menengah, PGE menargetkan kapasitas panas bumi terpasang mencapai 1 gigawatt (GW) dalam 2–3 tahun ke depan dan 1,8 GW pada 2033. Target jangka panjangnya adalah 3 GW dari 10 WKP yang dikelola.
Salah satu proyek cepat yang tengah disiapkan adalah pemanfaatan uap dari sumur bertekanan rendah di Kamojang berkapasitas 5 MW yang direncanakan beroperasi pada 2028. (KS-5)