Surabaya Kretekroncong Festival 2025: Dorong Keberlanjutan Industri Rakyat di Tengah Regulasi Ketat

KANALSATU – Tradisi rakyat dan kebijakan publik bertemu dalam satu panggung di Surabaya Kretekroncong Festival 2025, yang digelar oleh Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) bersama Lentera Nusantara, Jumat (7/11/2025).
Acara ini mengangkat dua ikon budaya Indonesia—kretek dan kroncong—sebagai simbol kreativitas dan identitas bangsa yang kini menghadapi tantangan di tengah ketatnya regulasi industri hasil tembakau (IHT) serta perubahan global.
Direktur Lentera Nusantara Irfan Wahyudi menegaskan pentingnya mencari keseimbangan antara modernisasi kebijakan dan pelestarian budaya rakyat.
“Kita harus menemukan titik tengah antara pengendalian dan keberlanjutan, antara kesehatan publik dan kesejahteraan rakyat, antara kebijakan dan kebudayaan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua GAPERO Surabaya Sulami Bahar menyoroti peran besar industri hasil tembakau bagi ekonomi nasional. Ia menyebut sektor ini menyumbang lebih dari Rp216 triliun penerimaan cukai pada 2024 dan menjadi sumber penghidupan lebih dari 5,9 juta tenaga kerja.
“Kerugian negara akibat rokok ilegal sangat besar. Kami berharap pemerintah serius memberantas rokok ilegal,” tegasnya.
Dari sisi akademik, Rektor UWKS Prof. Rr. Nugrahini Susantinah Wisnujati menekankan pentingnya strategi hilirisasi industri tembakau yang berkeadilan.
“Tembakau perlu dipandang sebagai komoditas ekspor strategis. Harus ada wadah khusus untuk membahas hilirisasi tembakau agar nilai ekonominya semakin kuat,” katanya.
Kebijakan cukai juga menjadi topik hangat. Kepala Kanwil DJBC Jawa Timur I, Untung Basuki, menilai kebijakan cukai harus menjaga keseimbangan antara penerimaan negara dan keberlanjutan industri padat karya.
“Cukai harus menjadi instrumen yang menjaga ekosistem industri, bukan justru mematikan pelaku usaha kecil,” ujarnya.
Dari sisi budaya, Pakar Seni Budaya Unesa, Joko Winarko, menjelaskan bahwa kretek dan kroncong sama-sama tumbuh dari kreativitas rakyat kecil.
“Keduanya lahir dari kemampuan masyarakat mengolah pengaruh asing menjadi karya berjiwa lokal,” jelasnya.
Senada, Dekan FISIP UWKS, Sugeng Pujileksono, menambahkan bahwa kretek dan kroncong sama-sama berakar dari ruang sosial rakyat. “Kroncong adalah musik jiwa rakyat, sementara kretek adalah aromanya,” katanya.
Festival ini menjadi bukti bahwa kretek dan kroncong bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan simbol masa depan ekonomi berbasis budaya rakyat.
Kolaborasi Lentera Nusantara, UWKS, dan pemangku kepentingan industri tembakau diharapkan melahirkan narasi baru bahwa pelestarian budaya dan kebijakan publik dapat berjalan seiring.
“Menjaga kretek berarti menjaga ekonomi rakyat dan identitas bangsa,” menjadi pesan penutup dari festival yang sarat makna ini.
Menguatkan Identitas Budaya Lewat Dialog dan Kolaborasi
Melalui Surabaya Kretekroncong Festival 2025, Lentera Nusantara menegaskan perannya sebagai lembaga riset dan advokasi kebudayaan yang berfokus pada pelestarian nilai historis dan sosial kretek serta musik kroncong.
Dengan menggandeng akademisi, pelaku industri, dan pemerintah, Lentera menghadirkan ruang dialog transformatif untuk membangun kesadaran bahwa budaya rakyat dapat menjadi fondasi ekonomi berkelanjutan di era digital.
Festival ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan bahwa pelestarian budaya bukan berarti bertahan di masa lalu, melainkan berani membawa warisan menuju masa depan dengan inovasi, riset, dan kebijakan yang bijak.
(KS-5)