Digitalisasi Pengelolaan Sampah: Bank Sampah Medokan Ayu Manfaatkan Teknologi AI

KANALSATU - Komunitas Bank Sampah Medokan Ayu kini selangkah lebih maju dalam upaya pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Melalui dukungan tim dosen Fakultas Teknik dan Desain Universitas Hayam Wuruk (UHW) Perbanas Surabaya, komunitas ini resmi mengimplementasikan sistem digital berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk memperkuat manajemen bank sampah di wilayahnya.

Langkah digitalisasi ini lahir dari program hibah pengabdian kepada masyarakat yang didanai Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Selama ini, Bank Sampah Cinta Medokan Ayu telah aktif sejak 2016 dan memiliki sistem pengelolaan yang rapi. 

Namun, proses pencatatan transaksi dan laporan masih dilakukan secara manual. Melihat potensi besar komunitas ini, tim UHW Perbanas menghadirkan solusi melalui aplikasi digital bernama BSCMU.com.

Ketua tim pengembang, Hariadi Yutanto, S.Kom menjelaskan bahwa sistem ini dirancang untuk membantu pengelola bank sampah mencatat, memantau, dan menganalisis data secara otomatis.

“Selama ini pengelolaan sampah di Medokan Ayu sudah bagus, hanya saja masih manual. Melalui BSCMU.com, kami menghadirkan sistem digital yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memudahkan proses pencatatan, pelaporan, hingga perankingan kelompok pengumpul sampah terbanyak,” jelas Hariadi.

Aplikasi ini mengusung konsep gamifikasi yang mampu menampilkan peringkat antar kelompok nasabah berdasarkan volume sampah yang dikumpulkan maupun nilai ekonomi yang dihasilkan. 

Selain itu, fitur AI assistant dalam sistem memungkinkan pengelola untuk berinteraksi langsung, menanyakan data, dan memperoleh laporan otomatis tanpa perlu menghitung manual.

Tak hanya itu, inovasi lain yang ditanamkan adalah sistem mini e-money yang mengonversi hasil pengumpulan sampah menjadi saldo digital. Fitur ini membuka peluang bagi warga untuk menikmati manfaat ekonomi langsung dari aktivitas daur ulang yang mereka lakukan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa sampah bisa punya nilai ekonomi, dan dengan digitalisasi, nilainya bisa dikelola lebih transparan serta efisien,” tambah Hariadi.

Pembina Komunitas Pahlawan Lingkungan Medokan Ayu, Nanang Andi, menyambut positif inisiatif tersebut. Ia berharap sistem berbasis AI ini dapat segera diterapkan di seluruh RW agar warga dapat belajar menggunakan teknologi hijau dalam pengelolaan sampah.

“Kami akan siapkan perwakilan di setiap RW agar bisa belajar langsung menggunakan aplikasi ini. Harapannya, digitalisasi ini membuat kerja bank sampah lebih cepat, akurat, dan menarik minat warga untuk ikut berpartisipasi,” ujarnya.

Ketua LPMK Medokan Ayu, Rudy Judianto, menilai langkah digitalisasi ini sebagai bentuk kemajuan nyata masyarakat dalam mengelola lingkungan. Ia berharap program seperti ini terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Surabaya.

“Kalau di Jakarta ibu-ibu sudah bisa menciptakan produk dari bank sampah, di Medokan Ayu kita juga harus bisa. Dengan sistem digital dan AI, pengelolaan sampah bukan lagi sekadar kegiatan sosial, tapi juga bagian dari transformasi lingkungan berbasis teknologi,” tegasnya.

Melalui penerapan sistem digital berbasis AI ini, Bank Sampah Medokan Ayu tidak hanya menjadi pelopor dalam pengelolaan sampah berkelanjutan, tetapi juga membuktikan bahwa komunitas lokal mampu beradaptasi dengan era digital. 

Inisiatif ini diharapkan memperkuat peran masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus mendorong ekonomi sirkular di tingkat akar rumput.
(KS-5)

Komentar