Kadin Jatim Dorong Transformasi Digital Industri Gula Nasional

KANALSATU - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk mempercepat transformasi digital dan penerapan teknologi Industri 5.0 di sektor pergulaan nasional.
Langkah ini dinilai menjadi strategi utama dalam memperkuat daya saing, meningkatkan efisiensi, sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional melalui modernisasi industri gula.
“Industri gula harus segera bertransformasi. Pemanfaatan teknologi digital dan penerapan prinsip Industri 5.0 bukan lagi pilihan, tapi keharusan jika ingin bertahan dan berkembang,” tegas Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto saat membuka SUGAREX Indonesia 2025 di Surabaya, Rabu (12/11/2025).
Acara berskala internasional ini mengusung tema “Membangun Masa Depan Manis Indonesia melalui Inovasi, Teknologi, dan Keberlanjutan di Industri Gula”.
Sebagai penghasil gula kristal putih terbesar di Indonesia, Jawa Timur menyumbang sekitar 50 persen dari total produksi nasional. Pada 2024, provinsi ini mencatat luas lahan tebu mencapai 229.869 hektare dengan produksi sekitar 1,22 juta ton gula dan rendemen rata-rata 7,47 persen.
Menurut Adik, dengan besarnya kontribusi tersebut, percepatan modernisasi industri gula di Jawa Timur akan langsung berdampak pada peningkatan ketahanan pangan nasional.
“Kalau Jatim mampu mempercepat modernisasi pabrik dan mengintegrasikan teknologi cerdas, maka separuh tantangan produksi gula nasional bisa kita jawab dari sini,” ujarnya.
Transformasi digital, menurut Adik, tidak hanya berdampak pada peningkatan produktivitas, tetapi juga menjaga keseimbangan antara teknologi, manusia, dan lingkungan. “Digitalisasi bukan sekadar soal mesin dan data, tapi soal menjaga keberlanjutan dan kemandirian gula nasional,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh peserta, investor, dan pelaku industri menjadikan SUGAREX Indonesia 2025 sebagai tonggak kebangkitan industri gula yang cerdas, inklusif, dan berdaya saing global.
“Jawa Timur siap menjadi pusat inovasi dan investasi gula nasional yang modern dan berkelanjutan,” pungkas Adik.
Tantangan dan Peluang di Era Digitalisasi Gula
Sektor pergulaan kini dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari produktivitas lahan yang rendah, pabrik berusia tua, hingga rantai pasok yang belum efisien. Selain itu, perubahan iklim dan tuntutan keberlanjutan menuntut inovasi yang lebih adaptif.
Meski demikian, Adik menilai peluang besar terbuka melalui teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan sistem otomasi cerdas. Teknologi ini memungkinkan peningkatan efisiensi produksi, pemantauan real-time, serta digitalisasi rantai pasok dari hulu hingga hilir.
“Industri 5.0 mengedepankan kolaborasi antara manusia dan mesin. Ini akan membawa sektor pergulaan menuju efisiensi tinggi sekaligus memastikan keberlanjutan lingkungan,” tutur Adik.
Sugarex 2025 Jadi Pusat Inovasi Gula Asia
Pameran SUGAREX Indonesia 2025 diikuti lebih dari 80 peserta dari delapan negara—termasuk Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Jerman, India, Korea, dan Tiongkok—dengan lebih dari 3.000 pelaku industri dan pengambil keputusan hadir.
Kenny Yong, Group CEO Fireworks Trade Media, menyebut bahwa gelombang teknologi berikutnya akan menjadi penentu masa depan industri gula.
“Solusi AI dan Industri 5.0 akan membantu sektor gula Indonesia memperluas kapasitas produksi, meningkatkan efisiensi, dan mengadopsi praktik berkelanjutan agar kompetitif di pasar global,” ujarnya.
Dukungan riset juga datang dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI). Kepala Divisi Bisnis P3GI Risvan Kuswurjanto menegaskan, inovasi industri tidak mungkin terwujud tanpa riset.
“Teknologi baru seperti traktor otomatis dan sistem efisiensi pabrik lahir dari penelitian panjang. Kami juga tengah mengembangkan varietas tebu unggul dan produk hilir seperti minuman berbasis tebu,” paparnya.
(KS-5)