AI Berdaulat Diproyeksikan Dongkrak PDB Indonesia USD140 Miliar pada 2030
Jadi Motor Menuju Indonesia Emas 2045

KANALSATU — Indonesia menempatkan kecerdasan artifisial (AI) berdaulat sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi menuju visi Indonesia Emas 2045.
Dalam Empowering Indonesia Report 2025 bertema “Building Bridges of Tomorrow” yang diluncurkan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) bersama lembaga riset Twimbit, AI berdaulat disebut berpotensi menyumbang hingga USD140 miliar ke Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2030 dan mendorong pertumbuhan ekonomi tahunan mencapai 6,8%.
Laporan tersebut menegaskan bahwa kedaulatan AI hanya dapat tercapai melalui lima pilar utama, yakni ketersediaan infrastruktur digital yang kuat, tenaga kerja berkompetensi AI, industri inovatif, riset unggul, serta regulasi dan etika yang solid.
Dengan implementasi yang tepat, Indonesia berpeluang mempercepat status negara berpendapatan tinggi menjadi tahun 2041, bahkan 2038 dalam skenario paling agresif.
Laporan itu juga memproyeksikan peningkatan produktivitas lintas sektor. Industri jasa diperkirakan dapat mencatat kenaikan efisiensi hingga 18%, manufaktur 15–20%, dan pertanian 5–8%.
Dampak tersebut menjadikan AI berdaulat sebagai salah satu pengungkit daya saing paling signifikan di era ekonomi digital.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menekankan bahwa kedaulatan AI bukan semata persoalan teknologi, melainkan bagian dari kemandirian bangsa.
“Kedaulatan AI berarti membangun teknologi yang sejalan dengan nilai Pancasila, menjamin aspek etika, dan memastikan manfaatnya dapat dirasakan seluruh masyarakat,” ujarnya.
Dari sisi infrastruktur, Indonesia membutuhkan investasi USD3,2 miliar hingga 2030 untuk meningkatkan kapasitas komputasi nasional. Saat ini, porsi pusat data AI Indonesia masih di bawah 1% pasar global, sehingga dibutuhkan percepatan pembangunan pusat data berbasis energi terbarukan serta percepatan perluasan jaringan 5G.
Pengembangan sumber daya manusia menjadi tantangan berikutnya. Indonesia memerlukan 400 ribu talenta AI pada 2030, yang menuntut investasi sekitar USD968 juta untuk pendidikan, pelatihan, dan reskilling. Saat ini, Indonesia memiliki 364 startup AI dengan pendanaan total USD1,08 miliar.
Sejumlah inisiatif lokal juga menunjukkan potensi besar, termasuk Sahabat-AI V2—Large Language Model (LLM) berparameter 70 miliar yang mendukung bahasa Indonesia dan berbagai bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, Bali, hingga Batak.
CEO Twimbit, Manoj Menon, menilai Indonesia memiliki momentum strategis untuk menjadi pusat perkembangan AI di Asia. “Dengan fondasi digital yang kuat dan ekosistem yang inklusif, Indonesia dapat menjadi pemimpin di era AI berdaulat,” kata Manoj.
Indosat Ooredoo Hutchison menegaskan komitmennya mendorong percepatan kedaulatan digital Indonesia. President Director dan CEO IOH, Vikram Sinha, menyatakan bahwa AI berdaulat merupakan langkah penting menuju masa depan yang dikendalikan oleh bangsa sendiri.
“Melalui inovasi dan kolaborasi lintas sektor, Indosat berkomitmen menyediakan konektivitas inklusif dan solusi AI beretika untuk mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045,” ujar Vikram.
Empowering Indonesia Report 2025 ditutup dengan ajakan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi nasional.
Dengan meningkatkan kapasitas infrastruktur, membangun talenta masa depan, serta mempertegas tata kelola AI yang beretika, Indonesia diyakini mampu bertransformasi dari pengguna menjadi arsitek teknologi digital yang berdaulat.
(KS-5)