Lestarikan Budaya, SKK Migas-HCML Gelar Festival Pesisir 4 di Sumenep

Tahun ini, festival mengusung tema “Lengghi: Ekspresi Budaya Gili Genting”, sebuah ajakan untuk kembali menengok nilai-nilai lokal yang mempersatukan masyarakat pulau.
Lengghi, ujung perahu tradisional dengan ciri melengkung ke dalam seperti dua tangan terbuka, bukan sekadar elemen visual. Ia menjadi simbol keramahan masyarakat pesisir Gili Genting—gambaran tentang budaya menerima tamu dan menjaga silaturahmi yang telah diwariskan turun-temurun.
Dengan mengangkat lengghi sebagai ikon, festival ini ingin mengingatkan bahwa pariwisata bukan hanya soal lanskap indah atau laut biru. Ia juga tentang manusia, tradisi, dan kebijaksanaan lokal yang membentuk identitas suatu daerah.
Manager Regional Office and Relations HCML Jawa Timur, Hamim Tohari, menjelaskan bahwa Festival Pesisir dirancang sebagai ruang pemberdayaan—sebuah cara mendekatkan masyarakat pada akar budaya mereka.
“Nilai luhur budaya harus dipahami dan diteruskan oleh generasi berikutnya, jangan sampai luntur,” ujarnya.
Hamim juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Sumenep dan masyarakat Gili Genting yang selama ini mendukung operasional HCML dalam mengelola sumber daya migas di kawasan tersebut. Dukungan itu, katanya, menjadi kunci kelancaran kegiatan perusahaan.
HCML, tambahnya, berkomitmen melanjutkan kolaborasi dengan Pemkab Sumenep, baik dalam penguatan ekonomi masyarakat, pelestarian lingkungan, maupun pengembangan budaya lokal.
Dari pemerintah daerah, apresiasi mengalir. Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo melalui Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Anwar Syahroni Yusuf, menilai inisiatif HCML memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Kontribusi HCML sangat besar, terutama dalam pelayanan dasar—mulai dari kesehatan, lingkungan, hingga sosial budaya,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga kolaborasi sehingga manfaat yang dirasakan masyarakat terus meningkat, utamanya di wilayah kepulauan yang menjadi perhatian khusus Pemkab Sumenep.
Festival ini bukan satu-satunya kegiatan HCML di Gili Genting. Menjelang pembukaan acara, perusahaan juga menggelar sejumlah program sosial. Mulai dari Khitanan Massal, Langkah Baik HCML, hingga HCML untuk Masa Depan yang ditujukan bagi siswa SD/sederajat.
Di bidang lingkungan, HCML menanam 13.000 bibit pohon lewat Program Tanam Rawat. Sebanyak 11.000 bibit ditanam di Kabupaten Sampang, sementara 2.000 bibit cemara udang memperkuat sabuk hijau Pantai Bringin, Pulau Giliraja—upaya penting menjaga ekosistem pesisir.
Dengan rangkaian kegiatan tersebut, Festival Pesisir keempat bukan sekadar perayaan budaya. Ia menjadi ruang pertemuan antara tradisi, masyarakat, dan komitmen perusahaan untuk hadir lebih dekat dengan kehidupan warga pesisir. (KS-5)