SGN Dorong Konsolidasi Industri, Jawa Timur Kunci Swasembada Gula

(kiri-kanan) Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Mahmudi, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa serta Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Abdul Roni Angkat dalam National Sugar Summit (NSS) 2025 di Surabaya.

KANALSATU – National Sugar Summit (NSS) 2025 menjadi ruang konsolidasi industri gula nasional. Fotum ini menyatukan pemerintah, pelaku usaha, dan petani dalam satu ekosistem untuk mempercepat swasembada gula dan ketahanan energi.

Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Mahmudi menegaskan, keberhasilan swasembada gula tidak bisa ditopang oleh satu pihak saja. “Ini tugas bersama. BUMN, swasta, petani, sampai penyedia layanan pendukung harus berada dalam satu ekosistem yang sama. NSS 2025 kami desain sebagai ruang untuk itu,” ujarnya.

Mahmudi menilai dukungan pemerintah terhadap industri gula dalam beberapa tahun terakhir semakin nyata. Program bongkar ratoon, subsidi pupuk ZA, serta KUR khusus tebu dengan plafon hingga Rp500 juta dan bunga 6 persen dinilai menjadi penopang penting bagi petani.

“KUR khusus tebu ini luar biasa. Tidak semua komoditas punya skema pembiayaan sekuat ini. Ini memberi napas bagi petani untuk bertahan dan meningkatkan produktivitas,” katanya.

Meski demikian, Mahmudi mengakui 2025 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi industri gula. Tersendatnya serapan gula dan rembesan gula rafinasi ke pasar konsumsi menekan harga dan arus kas petani maupun pabrik gula.

“Kalau rembesan ini tidak ditangani serius, semangat petani bisa turun. Karena itu kami mendorong kepastian penyerapan, termasuk melalui kebijakan pemerintah,” ujarnya.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, Jawa Timur memegang peran kunci dalam industri gula nasional. Provinsi ini secara konsisten berada dalam tiga besar produsen gula nasional, dengan kontribusi yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Produksi tinggi saja tidak cukup. Kita harus fokus pada kualitas, terutama rendemen tebu. Rendemen inilah yang menentukan efisiensi dan daya saing industri gula,” kata Khofifah.

Ia menyebutkan, target rendemen nasional berada di kisaran 13 persen, sementara di beberapa wilayah Jawa Timur, seperti Kabupaten Malang, telah mencapai sekitar 10 persen. “Ini bukti bahwa peningkatan rendemen bukan sesuatu yang mustahil,” ujarnya.

Khofifah juga menyampaikan bahwa Jawa Timur mendapat prioritas program bongkar ratoon seluas 70.000 hektare, dengan dukungan penuh pemerintah pusat. Skema ini dinilai memberi fleksibilitas bagi petani dalam mengelola tanam dan panen.

Namun, ia mengingatkan perlunya kebijakan tegas untuk mencegah gula rafinasi masuk ke pasar konsumsi. “Kalau gula rafinasi terus merembes, harga gula petani akan tertekan. Ini harus dijaga agar kerja keras petani tidak sia-sia,” tegasnya.

Melalui NSS 2025, pelaku industri dan pemerintah daerah berharap lahir rekomendasi konkret yang tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar memperkuat industri gula nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani tebu.
(KS-5)

Komentar