Bertemu Konjen Tiongkok, Jatim Dorong Kerja Sama SDM, Manufaktur, hingga Ekspor Sarang Walet

KANALSATU – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memperkuat hubungan kerja sama strategis antara Jawa Timur dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Hal tersebut dibahas dalam pertemuan dengan Konsul Jenderal RRT di Surabaya, Ye Su, yang digelar di Kediaman Konsulat Jenderal RRT Surabaya, Sabtu (3/1/2026).
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai peluang kolaborasi, mulai dari pengembangan sumber daya manusia (SDM), pendidikan, hingga kerja sama di sektor manufaktur dan perdagangan internasional.
Salah satu fokus utama adalah penguatan SDM melalui program beasiswa bagi pelajar Jawa Timur serta pelatihan guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Khofifah menyampaikan bahwa Pemprov Jatim telah menyiapkan ekosistem pendidikan yang terintegrasi, termasuk sekolah-sekolah unggulan berasrama yang berorientasi pada pembentukan karakter, kepemimpinan, dan daya saing global.
“Penguatan pendidikan menengah di Jawa Timur kami selaraskan dengan kebutuhan pendidikan tinggi, sehingga transisi siswa dari SMA ke perguruan tinggi dapat berlangsung lebih efektif dan berkeadilan,” ujar Khofifah.
Ia menjelaskan, sistem penerimaan mahasiswa di Indonesia terdiri dari jalur tes dan tanpa tes berbasis prestasi akademik maupun nonakademik. Menurutnya, prestasi siswa Jawa Timur terus menunjukkan hasil positif di tingkat nasional.
“Untuk jalur tanpa tes, pengumumannya pada bulan Maret. Penilaiannya berdasarkan prestasi. Sejak 2020 hingga 2025, siswa Jawa Timur secara konsisten menjadi yang terbanyak diterima di perguruan tinggi negeri, baik melalui jalur tes maupun non-tes,” ungkapnya.
Khofifah juga menyebutkan, Pemprov Jatim mengelola enam sekolah berasrama yang dirancang khusus untuk mencetak calon pemimpin masa depan. Sekolah-sekolah tersebut diharapkan menjadi sumber utama dalam menyiapkan penerima beasiswa internasional, termasuk ke Tiongkok.
Di sektor perdagangan, kerja sama antara Jawa Timur dan RRT diarahkan pada pengembangan industri manufaktur serta peningkatan ekspor produk unggulan daerah. Khofifah menegaskan, Jawa Timur memiliki basis industri yang kuat dan siap menjadi mitra strategis.
Pada triwulan III 2025, kontribusi industri manufaktur Jawa Timur tercatat mencapai 31,16 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Capaian tersebut menjadi modal penting dalam memperluas kerja sama industri dengan Tiongkok.
Selain manufaktur, potensi ekspor sarang burung walet ke Tiongkok juga menjadi topik pembahasan. Khofifah menilai Jawa Timur memiliki peluang besar dalam komoditas tersebut, dengan catatan peningkatan kualitas dan pemenuhan standar ekspor internasional.
“Sarang burung walet merupakan peluang besar bagi Jawa Timur. Dengan standar yang tepat dan kerja sama yang kuat, kami optimistis ekspor ke Tiongkok dapat terus ditingkatkan, meski saat ini masih ada ketentuan karantina yang harus dipenuhi,” jelasnya.
Sementara itu, Konjen RRT Ye Su mengapresiasi komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat kerja sama strategis dengan Tiongkok, khususnya di bidang pendidikan, pengembangan SDM, manufaktur, dan perdagangan.
Menurut Ye Su, kesiapan ekosistem pendidikan, dukungan terhadap pengembangan industri, serta potensi ekspor Jawa Timur menjadi fondasi kuat untuk membangun kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan.
“Kami melihat Jawa Timur memiliki komitmen yang kuat dalam pengembangan pendidikan dan SDM. Tiongkok terbuka untuk memperluas kerja sama, baik melalui beasiswa, pelatihan, maupun kolaborasi di sektor manufaktur dan perdagangan,” pungkas Ye Su.
(KS-9)