Syiah - Sunni, sudahlah

Refleksi atas kasus di Kec Puger, Jember

Ka'bah, kiblat bagi semua muslim

(WIN): Tragedi kemanusiaan karena perbedaan keyakinan dalam satu agama kembali terjadi di negeri kita tercinta, Indonesia. Kali ini, Rabu (11/9/13) terjadi bentrok berdarah, bahkan satu meninggal, antara dua kubu massa yang terindikasi sebagai kelompok massa beraliran sunni melawan massa bergaris ajaran syiah. Kedua kelompok ini massa sama-sama Muslim.

Meski pihak berwajib tidak secara terbuka mengatakan bentrok yang terjadi di Kec. Puger, Jember itu sebagai pertikaian aliran syiah-sunni, namun secara terbuka masyarakat di sekitar kecamatan pantai selatan kabupaten Jember itu memastikan bahwa bentrok dua kelompok massa itu adalah bagian dari perbedaan keyakinan syiah-sunni.

Sebetulnya sudah pernah ada kesepakatan antara Muspika dan Muspida Kabupaten Jember, dan Organisasi Masyarakat (Ormas) setempat, yang berisi tentang larangan kegiatan pengerahan massa di luar komplek Riyadhus Sholihin, ponpes yang pimpinannya diindikasi beraliran ajaran syiah. Rupanya kesepakatan itu diingkari oleh pimpinan ponpes dengan menggelar kegiatan di luar ponpes. Padahal jika kegiatan itu digelar di dalam ponpes, tidak akan menjadi masalah sebagaimana sudah sering dilakukan.

Bentrok di Jember ini adalah kali kedua di Jatim setelah belum lama ini juga terjadi di kabupaten Sampang, Madura. Kini ratusan warga syiah kab Sampang hidup di pengungsian karena keberadaannya tidak diinginkan oleh masyarakat setempat. Di sejumlah daerah di Indonesia, kolompok syiah yang notabene minoritas juga mendapatkan respon keras dari masyarakat sekitarnya, meski tidak sampai terjadi kekerasan phisik sebagaimana terjadi di K.ec Puger, Jember.

Jika dilihat dari asal-muasal bentrok, sebenarnya ini lebih kepada persoalan cara menempatkan diri, terutama yang terjadi di daerah-daerah pinggiran. Kebetulan kasus-kasus serupa di Indonesia tidak terjadi di kota-kota besar yang masyarakatnya lebih heterogen dalam balutan metropolis. Sementara di daerah-daerah pinggiran, seperti di kecamatan Puger, Jember, homogenitas kultural-sosial keagamaan terasa lebih kental dan lebih sensitif manakala ada perbedaan cara pandang, apalagi perbedaan keyakinan.

Masalahnya akan menjadi fatal jika kelompok yang minoritas secara terang-terangan menunjukkan perbedaannya dengan kelompok mayoritas. Pamer secara terbuka perbedaan prilaku dan kultur, terlebih cara beribadah, dengan apa yang ada (diyakini) di masyarakat, tentu akan mengundang masalah. Di mana pun di muka bumi ini, tentu ada pakemnya cara minoritas menghadapi mayoritas. Jika salah menempatkan diri, tentu akan menjadi masalah. Bukan hanya soal keyakinan keagamaan, tapi juga soal yang lain.

Contohnya, misalnya, jika ada ribuan massa suporter fanatik tim sepak bola sedang berkonvoi di jalan raya, lantas di ruas jalan yang sama konvoi itu berpapasan dengan sekelompok kecil orang yang secara kebetulan menggunakan kostum tim sepak bola rival beratnya, kira-kira apa yang akan terjadi. Tentu sudah bisa ditebak, sekelompok kecil orang itu akan menghadapi masalah besar. Harusnya kelompok kecil pemakai kaos tim lawan itu menghindar dari konvoi untuk tidak menggunakan ruas jalan yang sama. Ini baru urusan sepak bola. Apalagi soal keyakinan. Di sinilah peran negara melalui aparat keamanan untuk mengamankan kelompok yang kecil dengan memberi petunjuk ruas jalan yang tepat untuk dilalui.

Persoalan syiah-sunni ini adalah persoalan besar dan laten yang tidak pernah berakhir sejak ratusan tahun silam. Bahkan sudah berlangsung seribu tahun lebih. Permusuhan laten ini mudah sekali meledak jika ada pihak-pihak tertentu yang menyulutnya. Padahal kalangan sufi sejak berabad-abad sudah banyak melakukan ajakan dan ajaran guna menyatukan perbedaan pandangan (pertikaian) antara dua kutub aliran Islam ini (Syiah dan Sunni) yang bibitnya sudah berlangsung sejak sepeninggal Nabi Muhammad pada tahun 632 (masehi). Ajakan dan ajaran itu secara garis besar berbunyi sebagai berikut:

Sepanjang kalian meyakini Allah SWT sebagai Tuhan, Al-Quran sebagai Kitab Suci, Kabah sebagai Kiblat, dan menganggap Muhammad sebagai Rasulullah, maka kalian sebenarnya adalah bersaudara (al-ikhwan). Jika kalian bersaudara dan sama-sama meyakini empat poin utama kebenaran (Allah SWT, Al-Quran, Kabah, dan Muhammad) kenapa harus saling serang, caci-maki, saling menyakiti, bahkan saling membunuh?

Sangat banyak jumlah korban tewas akibat kekerasan perbedaan dan pertikaian dua aliran ini yang sudah berlangsung sekitar 1.381 tahun. Pada zaman kekinian, pertikaian masih berlangsung dan banyak sekali terjadi bentrok phisik, teror dan bom yang menewaskan banyak korban di sejumlah negara berpenduduk mayoritas Islam. Ini sering terjadi di Pakistan, misalnya. Di negeri ini sering bom meledak di masjid sunni, sebaliknya juga di masjid syiah. Korbannya sama-sama muslim. Sama-sama meyakini kebenaran empat poin utama (Allah SWT, Al-Quran, Kabah, dan Muhammad)

Di sejumlah negara berpenduduk Islam, bahkan kekerasan meluas menjadi persoalan politik ekstrim manakala kelompok Syiah berkesempatan menguasai rezim sebuah pemerintahan dimana mayoritas penduduknya adalah warga Sunni seperti yang terjadi di Suriah, saat ini. Bahkan presiden Bashar al-Assad (yang syiah) melalui senjata kimia dikabarkan telah menewaskan sekitar 1.400 warga negaranya sendiri yang masyoritas sunni. Rezim al-Assad ini kabarnya didukung oleh Iran yang juga syiah. Sementara negara-negara sunni di sekitarnya mengecam keras tindakan penghancuran kemanusiaan tersebut. Atau sebaliknya, seperti yang pernah terjadi di Irak, dimana rezim sunni di bawah presiden Sadam Husein dalam waktu yang sangat lama diketahui telah menisbikan keberadaan dan hak-hak warga muslim syiah. Iklim persaudaraan sesama muslim di negara-negara itu makin runyam manakala negara-negara barat ikut terlibat di dalamnya untuk kepentingan tertentu.

Sungguh menyedihkan. Bahkan mengerikan. Bencana kemanusiaan hampir setiap hari terjadi, bukan karena kerasnya alam, tapi karena kerasnya keyaninan masing-masing pihak untuk saling meniadakan. Keyakinannya begitu mendalam. Apapun yang dilakukan, dianggapnya sebagai kebenaran yang harus dilakukan.

Kini, pertikaian aliran ini juga terjadi di Jember, di Sampang, dan beberapa daerah lain di Indonesia. Sampai kapan, hanya kita sendirilah yang harusnya menentukan. Jangan sampai letupan-letupan kecil syiah-sunni seperti yang terjadi di Jember dan Sampang ini kemudian menjadi bola yang ikut dimainkan oleh pihak-pihak yang memang menginginkannya. Tentu kita semua tidak ingin adanya bom meledak di masjid-masjid seperti di Pakistan dan Irak, atau negara lainnya, karena perbedaan keyaninan ini. Jangan sampai letupan-letupan kecil ini menjadi letupan besar, menjadi dendam yang besar dan mendalam. Jangan sampai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berazas Pancasila ini menjadi tercerai-berai seperti yang terjadi di Suriah karena persoalan minoritas dan mayoritas aliran agama. Sungguh, jangan sampai terjadi. Kasihan masa depan anak-cucu kita. Kasihan para pendiri bangsa ini.

Hanya kita sendirilah yang harusnya menentukan cara hidup damai. Jangan cari perbedaannya, tapi carilah sari kesamaannya. Agama Ilahi ini mengajarkan kedamaian. Mari kita merenung, tundukkan kepala, tumbuhkan kesadaran; Sepanjang kita meyakini Allah SWT sebagai Tuhan, Al-Quran sebagai Kitab Suci, Kabah sebagai Kiblat, dan menganggap Muhammad sebagai Rasulullah, maka sebenarnya kita adalah bersaudara.

Mari kita hidup berdampingan secara proporsional, seimbang, dan tahu diri. Yang minoritas menjaga perasaan yang mayoritas, sebaliknya yang mayoritas memahami perasaan minoritas. Allah SWT Maha Mengetahui.(win5)

Komentar