Khofifah Pastikan Stok Hewan Kurban Jatim Surplus, Siap Pasok Daerah Lain Jelang Idul Adha


KANALSATU – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menjamin ketersediaan hewan kurban dalam kondisi cukup dan berkualitas menjelang Idul Adha tahun ini. Kepastian tersebut disampaikan Gubernur Khofifah Indar Parawansa saat meninjau peternakan UD Sapi Baru di Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (2/5/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Khofifah didampingi Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro serta Kepala Dinas Peternakan Jatim Indyah Aryani. Ia meninjau langsung populasi sapi di peternakan milik Mursyid yang mencapai 200 ekor, terdiri dari jenis Peranakan Ongole (PO), Limosin, dan Simental.

Menurut Khofifah, kondisi ternak yang sehat dan memiliki bobot besar menjadi indikator kuat bahwa kualitas peternakan di Jawa Timur sangat baik. Bahkan, beberapa sapi memiliki bobot di atas satu ton.

Ia juga menyebut peternakan tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga memasok hewan kurban ke luar daerah seperti Kalimantan dan Jawa Tengah.

“Ini menunjukkan bahwa Jawa Timur tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga menjadi penopang pasokan nasional,” ujarnya.

Berdasarkan data Pemprov Jatim, total kebutuhan hewan kurban tahun ini diproyeksikan mencapai 427.060 ekor, yang terdiri dari sapi 70.550 ekor, kambing 297.900 ekor, domba 58.600 ekor, dan kerbau 10 ekor.

Namun, ketersediaannya jauh melampaui kebutuhan. Untuk sapi, tersedia 629.119 ekor atau surplus 558.569 ekor. Kambing mencapai 940.693 ekor (surplus 642.793 ekor), domba 484.468 ekor (surplus 452.868 ekor), dan kerbau 1.698 ekor (surplus 1.688 ekor).

Khofifah menegaskan, seluruh hewan kurban telah melalui proses vaksinasi, penerapan biosekuriti, serta pengobatan, sehingga dipastikan bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) maupun Lumpy Skin Disease (LSD).

Selain itu, Pemprov Jatim juga mengerahkan ribuan petugas untuk memastikan kesehatan dan kelayakan hewan kurban. Mereka terdiri dari 950 dokter hewan, 1.500 paramedik veteriner, 145 pengawas bibit ternak, 75 pengawas mutu pakan, serta 1.997 juru sembelih halal bersertifikat.

Pengawasan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan sebelum pemotongan (ante mortem) hingga setelah pemotongan (post mortem), guna memastikan daging yang dikonsumsi masyarakat aman dan layak.

“Jika ditemukan indikasi penyakit seperti PMK, maka pasar hewan terdekat akan ditutup sementara. Langkah ini sudah dilakukan dalam dua tahun terakhir untuk menjaga kesehatan ternak,” tegasnya.

Dengan kondisi surplus dan pengawasan ketat tersebut, Jawa Timur dipastikan siap memenuhi kebutuhan hewan kurban, baik untuk wilayah sendiri maupun daerah lain di Indonesia.
(KS-9)
Komentar