SNI terkendala jumlah LSPro

KANALSATU - Jumlah lembaga sertifikasi produk (LSPro) yang masih sedikit dan tempatnya yang tidak merata menjadi kendala tersendiri bagi produsen mainan anak yang ingin mendapatkan standar nasional Indonesia (SNI). Tidak hanya industri kecil dan menengah (IKM) saja yang kesulitan, namun juga industri besar.

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, jumlah LSPro di Indonesia hanya sembilan perusahaan, sedangkan lembaga uji ada 35 perusahaan baik asal dalam negeri maupun luar negeri. Untuk mendapatkan SNI, produsen mainan anak harus mengajukan uji kepada perusahaan tersebut. Namun hanya LSPro yang bisa mengeluarkan sertifikat apakah produk yang dibuat itu lolos memenuhi standar atau tidak.

Produsen mainan anak yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia (APMI) melihat jumlah LSPro yang masih sedikit menjadi kendala tersendiri bagi produsen yang ingin mengajukan SNI.

"Seperti contoh di Jatim ini, belum ada LSPro yang memiliki lab uji untuk mainan anak, sehingga kami harus mengujikan produk kami di Jakarta, atau paling dekat ke Jateng. Biaya pengujian tentu saja mahal, belum lagi biaya wira-wiri nya juga," kata Winata Riangsaputra, Chief Wooden Toys Division APMI, Selasa (3/6/14).

Winata menjelaskan anggota APMI merupakan produsen mainan anak mulai dari skala besar, menengah, kecil dan mikro. Saat ini jumlah anggota mencapai 30 perusahaan. Dari jumlah itu, 15 diantaranya merupakan IKM. Dari 30 perusahaan itu, baru empat produsen mainan anak yang mengantongi SNI. Keempatnya merupakan produk mainan anak berbahan karet (balon), plastik, dan kayu. Mainan anak yang berbahan kayu itu perusahaan berasal dari Surabaya dan Jombang.

Winata mendukung adanya syarat SNI untuk produk mainan anak di Indonesia. 'Kami mendukung karena ini untuk menjaga kualitas dan keamanan konsumen. Namun yang menjadi kendala untuk kami ya itu, jumlah LSPro yang masih minim," tegasnya.

Meskipun di Jatim ada LSPro yakni PT Sucofindo, sayangnya perusahaan pelat merah itu belum bisa menguji mainan anak tersebut. Sebab, laboratorium Sucofindo cabang Surabaya sejauh ini masih menguji untuk komoditas mineral dan batubara serta kimia.

Sementata Branch Manager PT Sucofindo cabang Surabaya Heryanto menambahkan meskipun Sucofindo Surabaya belum bisa menguji mainan anak yang diproduksi IKM asal Jatim, pihaknya siap membantu mengirimkan barang yang akan diuji di lab Sucofindo yang berada di Jakarta.

"Kami siap membantu dan memfasilitasi, memang di Surabaya saat ini masih untuk pengujian minerba dan untuk bahan kimia. Untuk IKM mainan anak masih ke Jakarta," pungkas Heryanto.(win8/12)

Komentar