Kantor majalah penghina Nabi Muhammad diserang, 12 tewas

KANALSATU - Penyerang bersenjata senapan serbu Kalashnikovs dan peluncur roket menembaki kantor Majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis, Rabu (7/1/15). Serangan terhadap majalah satir tersebut mengakibatkan 12 orang tewas dan tujuh lainnya terluka.
Presiden Prancis Francois Hollande menyempatkan diri mendatangi tempat kejadian perkara dan langsung menggelar rapat kabinet darurat. Pemerintah Prancis meningkatkan kewaspadaan hingga ke level tertinggi, terutama di sekitar kawasan Paris.
Baca: Kelompok bersenjata tewaskan 25 orang di mal Kenya
Sumber BBC yang dekat dengan penyidik mengungkapkan, dua orang pelaku bertopeng menggunakan senjata Kalashnikov dan peluncur roket itu menyerbu kantor majalah yang berada di jalan Rue Nicholas Appert, jantung Kota Paris.

Para penyerang sempat terlibat baku tembak dengan aparat keamanan. Seorang penyerang bahkan membajak sebuah mobil dan menabrak seorang pejalan kaki ketika berusaha melarikan diri.
Presiden Francois Hollande mengutuk kejadian itu dan mengatakan tidak ragu mengategorikannya sebagai serangan teroris ‘kebiadaban yang luar biasa’.
Hollande memerintahkan aparat kepolisian Prancis menggelar sebuah operasi besar-besaran di seluruh daerah Paris untuk menangkap pelaku pembantaian.
“Ini adalah tindakan barbarisme yang luar biasa. Orang telah dibunuh secara pengecut. Kami terancam karena kita adalah negara kebebasan,” tegas Presiden Hollande kepada wartawan di lokasi kejadian.
Perdana Menteri Inggris David Cameron melalui twitter mengatakan, aksi tersebut memuakkan. Cameron bahkan menegaskan komitmennya untuk berdiri bersama orang-orang Prancis dalam perang melawan teror dan membela kebebasan pers.

Serangan itu diduga kuat terkait tweet terbaru di akun Charlie Hebdo tentang gambar kartun pemimpin kelompok militan Negara Islam Abu Bakr al-Baghdadi. Kabar satir yang dirilis menguatkan kenekadan majalah mingguan bergaya satir yang sering ‘menantang’ kontroversi tentang Islam.
Redaksi Charlie Hebdo sebenarnya sudah disarankan menempuh kebijakan redaksi sopan dan lembut pada setiap penerbitan seiring berita-berita kontroversi tentang Islam yang pernah dimuatnya.
Majalah satir Charlie Hebdo menjadi pusat perhatian pada Februari 2006 saat mencetak ulang kartun Nabi Muhammad yang sebelumnya diterbitkan harian Denmark Jylland-Posten. Penerbitan kartun tersebut mendapat kecaman dari umat Muslim sedunia.
Kantor Charlie Hebdo juga dilempari bom molotov pada November 2011, atau sehari setelah menerbitkan kartun Nabi Muhammad berjudul ‘Charia Hebdo’. Pada September 2012, Charlie Hebdo kembali berulah dengan menerbitkan kartun Nabi Muhammad tanpa busana ketika aksi unjuk rasa tengah bergolak di seluruh dunia memrotes film ‘Innocence of Muslims’ yang dianggap menghina agama Islam.(win10)