PM Prancis perintahkan peningkatan keamanan nasional

KANALSATU - Perdana Menteri Prancis Manuel Valls memerintahkan upaya peningkatan keamanan nasional sejak Rabu (7/1/15) setelah tiga berturut-turut negeri itu mendapat serangan berdarah. Meski disebut tidak saling berhubungan, tetapi peningkatan keamanan nasional itu sebagai upaya membendung kegelisahan warganya yang kini muncul.
Belum terungkap motif insiden serangan pisau pada polisi dan dua orang yang menghancurkan mobil yang lewat, publik Prancis kembali tersentak pembantaian di kantor majalah Charlie Hebdo di Paris. Aksi terakhir di jantung pemerintahan Prancis itu merenggut nyawa 12 orang dan sedikitnya tujuh lainnya terluka serius.
Valls menegaskan, walau dihantui tiga insiden yang berbeda, warga Prancis diminta tetap tenang seraya meningkatkan keamanan wilayah. “Ada 200 sampai 300 tentara tambahan akan dikerahkan dalam beberapa jam mendatang dan lebih 780 pasukan sudah dikerahkan untuk pengamanan.”
Baca: Penyerang Charlie Hebdo gunakan senjata serbu AK-47
Dia menambahkan, patroli keamanan juga akan ditingkatkan di daerah perbelanjaan, pusat kota, stasiun dan transportasi umum.
Kekerasan di Prancis dimulai akhir pekan lalu ketika seorang pria ditembak mati setelah mencoba memasuki sebuah kantor polisi di kota pusat Joue-les-Tours. Pria yang diilustrasikan sebagai seoran gmuslim itu menyerang tiga petugas dengan pisau, dua korban di antaranya mengalami luka berat.
Pada Minggu (4/1/15) malam, seorang pengendara dengan sengaja menabrak sejumlah pejalan kaki di kawasan Timur Kota Dijon dan melukai 13 orang. Dan Senin (5/1/15) malam, seorang pria lain menabrakkan mobilnya ke pasar Natal di Kota Nantes bagian Barat. Aksi tersebut melukai 10 orang, salah satunya akhirnya tewas.
Aparat keamanan selama berbulan-bulan telah gelisah atas ancaman kekerasan terinspirasi gerakan ekstremisme Islam. Kegelisahan terpicu aksi kelompok ISIS radikal pada September 2014 yang mendesak umat Islam di seluruh dunia untuk membunuh dengan cara apapun’ warga negara-negara yang terlibat dalam koalisi melawan ISIS.
Di antara instruksi yang dirilis ISIS adalah membunuh warga sipil atau militer negara pendukung koalisi dengan jalan ‘menabraknya dengan mobil Anda’.
Namun, penyelidikan sementara pada serangan Sabtu itu membantah kemungkinan terkait ekstremisme Islam. Penyelidikan itu menyebut aksi amuk pada mobil yang lewat dilakukan orang-orang bermasalah secara psikologis. Kedua jaksa yang bertugas menyelidiki insiden itu bahkan dengan tegas menyebut para pelaku bukan teroris.
Jaksa lokal Marie-Christine Tarrare mengungkapkan, penyerang di Dijon, misalnya, terbukti pernah 157 kali dirawat rumah sakit jiwa. Kepada polisi, pelaku mengaku menabrak orang karena ‘ledakan empati untuk anak-anak dari Chechnya’ tiba-tiba. Selain itu, dia berteriak ‘Allahu Akbar’ untuk memberikan keberanian.(win10)