Adidas akan akhiri sponsori kegiatan IAAF

Laporan BBC London akibat skandal dopping

KANALSATU - Investigasi Kantor Berita BBC menemukan bahwa sponsor terbesar International Association of Athletic Federation (IAAF/Badan Atletik Dunia), adalah band olahraga ternama, Adidas, akan memutus hubungan sponsornya empat tahun lebih awal.

Perusahaan pakaian olahraga itu mengabarkan IAAF akan keputusan tersebut awal pekan ini. Langkah Adidas diperkirakan sebagai dampak skandal doping di olahraga atletik.

Sejumlah sumber melaporkan kepada BBC, langkah ini akan menyebabkan kehilangan pendapatan sebesar puluhan juta dolar bagi IAAF. Baik Adidas maupun IAAF belum memberikan komentar.

Berdasarkan penelusuran BBC, Adidas mengabari IAAF pada November 2015 bahwa mereka mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan mereka lebih awal karena laporan komisi independen yang dibentuk Badan Anti-Doping Dunia (WADA), yang memperinci klaim tentang "doping yang disponsori pemerintah" di Rusia.

Awal Januari 2016 ini, kepala komisi, Dick Pound, merilis laporan kedua yang mengungkap bahwa "korupsi tertanam" dalam IAAF di bawah pimpinan mantan presiden Lamine Diack.

Beberapa hari kemudian, pengurus tertinggi Adidas memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan IAAF.

Secara khusus Adidas menganggap pengungkapan skandal doping dalam laporan yang dirilis Pound merupakan pelanggaran perjanjian dengan IAAF.

Perjanjian sponsor selama 11 tahun ditandatangani pada 2008, dan akan berakhir pada 2019. Pada waktu penandatanganan, dilaporkan bahwa kesepakatan dapat bernilai US$33 miliar (sekitar Rp458 triliun)

Namun berdasarkan sumber BBC, angka sebenarnya jauh lebih tinggi. Dalam bentuk uang tunai dan produk, perjanjian itu bernilai sekitar US$8 miliar (Rp111 triliun). Itu berarti perkiraan kerugian IAAF selama empat tahun ke depan akan lebih dari US$30 miliar (Rp416 triliun).

Belum jelas apakah IAAF akan berusaha menantang keputusan itu di pengadilan, meski demikian pengacara di Adidas bersiap untuk langkah semacam itu.

Langkah Adidas menjadi pukulan telak bagi olahraga atletik - dan bagi presiden IAAF, Sebastian Coe - dalam masa gejolak yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Meski demikian, Dick Pound menyuarakan dukungannya bagi Coe, mengatakan bahwa ia "tak bisa menemukan orang yang lebih baik" untuk memimpin olahraga atletik keluar dari krisis ini.

Laporan WADA tentang doping yang disponsori pemerintah serta investigasi kriminal yang dilakukan Prancis - yang menyelidiki penganugerahan setiap Kejuaraan Dunia sejak 2007, termasuk penunjukkan London sebagai tuan rumah kompetisi tersebut pada 2017 - menyebabkan cabang olahraga atletik menghadapi tahun Olimpiade dengan cedera reputasi yang besar.

Kini tampaknya Adidas yakin ada terlalu banyak risiko reputasi bagi citranya untuk melanjutkan asosiasi dengan IAAF.

Adidas juga telah mengutarakan ketidaksenangan terhadap skandal korupsi FIFA, meski mereka tetap menjadi rekan komersial tertua lembaga itu. (bbc/win7)


Komentar