Kemenkum HAM dapat 14 ribu 'darah segar' untuk jaga Lapas

KANALSATU - Kementerian Hukum dan HAM mendapatkan 14 ribu pegawai baru yang ditugaskan untuk menjaga lembaga pemasyarakatan (lapas). Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly mengatakan saat ini Kemenkumham kesulitan untuk menemukan pegawai lapas yang benar-benar bersih karena keterbatasan sumber daya manusia.

”Kami menerima 14 ribu pegawai untuk menambah kekuatan, kita nanti gunakan yang fresh blood karena yang lama-lama ini sudah banyak terkontaminasi. Empat belas ribu ini fresh CPNS, mau kita terima untuk lapas,” kata Yasona.

Ia menambahkan, kementerian yang dipimpinnya bersyukur mendapatkan ‘darah segar’ tersebut untuk mengganti pegawai yang lama. ”(Pegawai lama) banyak yang sudah tidak benarnya, tapi ada yang bersih ada yang benar hanya sudah banyak yang kita geser kemana pun ya itu-itu juga, kita geser ke sini pun terbatas orang-orangnya maka saya bersyukur kita dapat 14 ribu sekarang, kita betul-betul latih mereka dan ini kita konsentrasikan melebihi jumlah yang seyogyanya,” ungkap Yasonna.

Para pegawai baru itu pun bisa dialokasikan untuk mengisi lapas-lapas di daerah terluar yang sedang dalam tahap perencanaan. ”Mereka akan kita latih dengan Brimob, ini anggarannya sedang kita siapkan untuk training mereka,” tambahnya.

Yasonna juga menegaskan pencopotan Kalapas Batu Nusakambangan, Abdul Aris pasca terungkapnya kasus peredaran 1,2 juta pil ekstasi dari Belanda ke Indonesia yang dikendalikan oleh salah satu penghuni Lapas Nusakambangan yaitu Aseng, terpidana 15 tahun.

”Ya memang konsekuensinya begitu. Siapa pun itu, apa pun itu harus bertanggung jawab dari bawah, tapi kalapas (Nusakambangan) sebenarnya dia sudah selesai dan mau dipromosi untuk dipindahkan ke Lampung atau Bengkulu, ya sudah tidak jadi, batal,” lanjut dia.

Padahal Lapas Batu, Nusakambangan adalah salah satu lapas yang dipersiapkan untuk menjadi menjadi lapas khusus narapidana bandar narkoba. Keempat lapas khusus itu adalah Lapas Gunung Sindur di Kabupaten Bogor, Lapas Langkat di Sumatera Utara, Lapas Batu di Nusakambangan, dan Lapas Asongan di Kalimantan Tengah.

”Hanya nama-namanya kami butuh dari BNN (Badan Narkotika Nasional), yang betul-betul menyidik itu mereka. Polri yang tahu siapa yang potensial, siapa yang punya jaringan. Kalau hanya sekedar kurir kan tidak punya jaringan. Kemudian di Langkat, Sumatera Utara jaringannya besar,” jelas Yasonna.

Ia pun sedang meminta sejumlah peralatan untuk melengkapi lapas-lapas tersebut seperti alat pelacak sinyal.
(Ant/Ks-5)

Komentar