Muda dan Berdaya, Budidaya Ayam Petelur di Desa Bandungrejo Dorong Kemandirian Karang Taruna

KANALSATU - Hingga siang hari, Dedik Dian Winandra masih sibuk di peternakan ayam petelur di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro. Bersama beberapa anak muda lainnya, ia menjalankan aktivitas rutin di peternakan yang menampung sekitar 1.200 ayam petelur. 


Ada yang memeriksa catatan, mengambil telur yang siap dipanen, hingga bercakap-cakap di depan kandang. Terlihat dua kandang bertingkat dengan kotoran ayam yang menumpuk di bawahnya.
Dengan kesibukan mereka, aroma kotoran dan pakan ayam yang menyengat tidak lagi mengganggu. Di sebelahnya, beberapa tukang sedang merapikan bangunan baru yang akan digunakan untuk pengembangan produk hilir.

Peternakan ayam petelur ini mulai beroperasi pada tahun 2022. Dedik yang menjabat sebagai Kepala Unit Peternakan Ayam Petelur, mengatakan bahwa pada awal program, anggota karang taruna menjalani pelatihan terlebih dahulu. Selama sekitar satu minggu, mereka belajar tentang budidaya ayam termasuk penanganan ketika ayam sakit. 

"Saya ingat betul ketika awal mengelola peternakan, ada ayam yang terkena flu dan itu langsung menyebar. Dalam satu hari, 15 ayam meninggal. Kami harus cepat menangani agar tidak semakin menyebar, dan produksi telur sudah pasti turun," ujarnya. Butuh waktu sekitar dua minggu hingga kondisi tersebut tertangani.

Dedik menambahkan bahwa peternakan ayam petelur ini memberikan harapan bagi anak-anak muda desa. "Dua anak kandang di sini lulusan SMK yang tidak bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi, dan satu lagi lulusan SD," jelasnya. 

Tidak hanya menguntungkan bagi pengelola, warga sekitar juga merasakan manfaat usaha ayam petelur ini. Salah satunya adalah kegiatan rutin menyantuni anak yatim dan warga tidak mampu setiap bulan Ramadan. Pada 2023, sekitar 100 anak yatim dan warga tidak mampu Desa Bandungrejo menerima sembako.

Selain itu, anak-anak muda Desa Bandungrejo kini lebih aktif berkegiatan. Mereka membentuk tim sepak bola yang rutin berlatih tanding dengan tim dari desa lain. "Kalau dulu, anak-anak ini berkumpul paling pas 17-an. Sekarang, mereka rajin latihan sepak bola. Biaya konsumsi atau biaya sparing bisa disumbang dari keuntungan ayam petelur ini, selain tentunya juga ada dana dari desa," tutur pemuda berusia 27 tahun ini.

Tidak berhenti hanya di budidaya ayam petelur, kini ia dan pengurus peternakan tengah mengembangkan produk hilir, seperti tepung dari telur. "Ini masih kami pelajari lagi," ujar Dedik. Selain itu, mereka juga tengah merencanakan budidaya telur Omega-3 untuk menjawab permintaan pasar terutama dari perkotaan

Satria Utama, Sekretaris Karang Taruna Lima Bersaudara Desa Bandungrejo, menjelaskan bahwa program peternakan ayam petelur ini adalah bagian dari Program Wismandi (Wira Usaha Muda Mandiri Berdikari) yang diinisiasi oleh PT Pertamina EP Cepu (PEPC). Wismandi sendiri merupakan program pemberdayaan masyarakat berbasis karang taruna untuk mengembangkan wilayah perdesaan di sekitar proyek pengembangan gas Jambaran Tiung Biru (JTB).

Pemberdayaan ini meliputi pemberian kemampuan dan keterampilan di bidang peternakan dan perkebunan serta dukungan rintisan usaha. Selain ternak ayam petelur, juga ada budidaya tanaman jambu kristal dan kelengkeng, serta Program SI IMUT MY DARLING (Integrasi Magot-Unggas dan Tanaman Bersama Masyarakat Sadar Lingkungan). Tidak ketinggalan, ada juga Program Pesona Hutan.

Tama, sapaan akrab Satria Utama, mengungkapkan bahwa sebelum adanya program ini, anak-anak muda di Desa Bandungrejo tidak memiliki banyak kegiatan. Sebagian besar bekerja di sektor pertanian, dan di luar kesibukan tersebut, mereka biasanya menghabiskan waktu di warung kopi. Namun, dengan adanya program ini, mereka memiliki harapan baru. 

Ada keterampilan baru yang mereka peroleh, termasuk keuntungan ekonomi. "Kami yang bekerja di peternakan ayam ini menerima gaji setiap bulan dari hasil penjualan telur," ujar alumnus Universitas Airlangga, Surabaya ini.

Panen telur dilakukan setiap hari. Sementara afkir atau penggantian ayam dilakukan setiap 1,5 tahun karena produktivitas ayam yang tua akan menurun. Budidaya ayam petelur dipilih karena sebelumnya sudah ada peternak yang berhasil di wilayah tersebut. "Kami melihat usaha ini berhasil dan hasilnya terserap pasar. Bahkan, peternak yang sudah berhasil itu dulu ikut membantu mengajari kami," jelas Tama.

Beri Dukungan Rintisan Usaha

Dengan dukungan dari PT Pertamina EP Cepu dan komitmen pengelola, dudidaya ayam petelur di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro ini telah membukukan omzet sebesar Rp73,78 juta per bulan atau sekitar Rp884,2 juta per tahun. Program ini memasuki tahun ketiganya dan telah menjual rata-rata 2.500 butir telur per hari, setara dengan hampir 150 kilogram telur.

PEPC memulai program ini dengan memberikan pelatihan dan sekitar 2000 ekor bibit ayam petelur. Pada tahun kedua, dilakukan pengembangan dengan membangun kandang baru untuk menampung sekitar 1200 ekor ayam.

“Keberhasilan ini juga memotivasi individu di luar kelompok binaan untuk memulai usaha serupa. Kami bersyukur program ini berhasil memperkuat ekonomi masyarakat sekitar dan menciptakan kemandirian,” ungkap Manager JTB Field Agung Prabowo.

Program ini mendukung komitmen perusahaan dalam keberlanjutan dan program Environmental, Social, Governance (ESG) serta agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan delapan terkait pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.

Tahun ini, fokus program adalah diversifikasi produk dengan mengolah telur menjadi serbuk putih telur, yang dijual sebagai bahan makanan olahan. Peran PEPC meliputi pelatihan dan penyediaan alat pemrosesan.

“Diversifikasi ini tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperluas manfaat program. Kami berharap program ini dapat menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan pemuda dan menciptakan usaha ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan,” tambah Agung. Sebagai bagian dari ekonomi berkelanjutan, budidaya ayam petelur ini juga terintegrasi dengan budidaya tanaman jambu kristal dan kelengkeng di lokasi yang sama. 
(KS-5)

Komentar