Optimis Target Swasembada Gula Tercapai Dalam Tiga Tahun
Kick Off Program MANIS

KANALSATU - Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia bisa mencapai swasembada pangan pada 2028. Namun, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan optimismenya bahwa target tersebut akan dapat tercapai lebih cepat dari waktu yang ditetapkan.
"Bapak presiden Prabowo Subianto saat APEC G20 menyatakan bahwa Indonesia bisa swasembada pangan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Di awal disampaikan tercapai selama 4 tahun, yaitu di 2028. Namun saya optimistis, dalam tiga tahun kita bisa swasembada pangan," tegas Zulkifli di depan ratusan petani yang hadir dalam kick off Program Manis Menuju Swasembada Gula Nasional, di areal perkebunan tebu PG Djatiroto Lumajang, Rabu (20/11/2024).
Dalam Komoditas gula, swasembada yang diharapkan bisa tercapai dalam waktu tiga tahun adalah gula konsumsi.
Ia menegaskan, swasembada pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab kementerian pertanian saja. Tetapi juga kementerian dan lembaga lain yang terkait juga harus memiliki komitmen yang sama, termasuk juga pemerintah daerah setempat dan masyarakat.
Optimisme tersebut didukung dari beberapa hal. Salah satunya penggunaan teknologi, contohnya drone dan traktor. Bahkan di luar Jawa pemberian pupuk dengan menggunakan pesawat kecil.
"Terus bibitnya varietas baru bibit unggul dari sebelumnya, sehingga produktivitasnya bisa tinggi. Tahun lalu produksinya mencapai 2,2 juta ton dan sekarang 2,4 juta ton sehingga kita kurang 800 ribu. Kami percepat kalau produktivitasnya tinggi maka untungnya banyak, sehingga orang tanam lagi dan kita punya ladang baru sehingga bisa swasembada sebelum 2028," harap Zulkifli Hasan.
Sementara itu, Direktur Utama PTPN III (Persero) Holding Perkebunan, Mohammad Abdul Ghani mengatakan skema pencapaian tersebut berdasarkan analisa data produksi gula nasional 2,47 juta ton di tahun 2024. Sedangkan target produksi tahun depan PT SGN bisa meningkatkan produksinya sebesar 150.000 ton.
"Artinya, tahun depan kita akan produksi gula konsumsi lebih dari 2,6 juta ton. Dan itu berarti kita telah memutus siklus tersebut sejak tahun 1931. Karena produksi gula tertinggi pada tahun 1930 adalah 2,9 juta ton," jelas Ghani lebih lanjut.
Berbagai program telah dilakukan untuk mendukung swasembada gula. Di antaranya penggunaan teknologi untuk perawatan tanaman tebu, aplikasi platform ETERA yang menghubungkan petani dengan perbankan, saprodi penyediaan pupuk melalui program Makmur, irigasi yang baik, serta penggunaan benih tebu varietas baru yang diharapkan dapat meningkatkan produksi gula.
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) anak perusahaan Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Mahmudi juga mengatakan optimisme yang sama. Ia yakin Indonesia bisa meraih swasembada gula nusantara sebelum tahun 2028.
Hal ini dibuktikan dengan naiknya produksi gula tahun 2024 mencapai 2,4 juta ton dan akan meningkat di tahun 2025 menjadi 2,6 juta ton. "Ini bukan sesuatu yang sulit, kita punya program untuk akselerasi, yakni intensifikasi platform ETERA (ekosistem tebu rakyat). Kolaborasi Perbankan, Pupuk Indonesia, Direktorat Jenderal Perkebunan sudah support ini yang akan mempercepat pencapaian swasembada gula," pungkasnya.
Dalam kesempatan tersebut Menko Bidang Pangan juga menyempatkan meninjau empat varietas benih tebu unggulan yang baru dirilis yakni PS Nusantara 081, PS Nusantara 082, PS Nusantara 083, dan PS Nusantara 084, kebun tebu unggulan P10T, melakukan penanaman tebu perdana serta menggunakan loko lori menuju lokasi acara.
Seleksi Peserta Program Inkubator Agripreneur Tebu
Sementara itu rekrutmen Agripreneur Tebu yang dibuka oleh PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) beberapa waktu lalu dan menyedot 1.110 animo generasi muda yang mendaftar dalam waktu tiga hari setelah pendaftaran dibuka. Setelah dilakukan seleksi dilakukan pengukuhan kepada 10 peserta terpilih dengan penempatan di Kabupaten Sragen Jawa Tengah dalam rangkaian launching kick off Program Manis Rabu (20/11) di Lumajang Jawa Timur.
Peserta yang telah terpilih akan mengelola mini estate dengan luasan kebun tebu 50 hingga 100 hektar. Program ini diinisiasi PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) anak perusahaan PTPN III (Persero) Holding Perkebunan Nusantara yang bergerak di bidang komoditas gula dan didukung Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia sebagai solusi untuk link and match antara isu produktivitas dan peran generasi muda dalam sektor pertanian.
Program Inkubator Agripreneur Tebu ini menjadi terobosan dalam memberikan ruang bagi generasi muda untuk menjadi pionir dalam revolusi pertanian modern.
"Setelah wilayah Sragen, maka kami akan melanjutkan rekrutmen program Agripreneur Tebu untuk penempatan wilayah Madiun, Kediri dan Mojokerto", ujar Mahmudi. (KS-5)