Ekonomi Jatim di 2025 Diprediksi Tumbuh 4,8 Persen - 5,6 Persen, Inflasi Terjaga 2,5±1 Persen

KANALSATU - Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur (BI KPw Jatim) memprediksi ekonomi Jatim di tahun 2025 akan tumbuh positif di kisaran 4,8 persen - 5,6 persen (year on year/yoy). Sementara inflasi akan tetap terkendali di rentang 2,5±1 persen. 

Hal itu diungkapkan Deputi Kepala KPw BI Jatim, M Noor Nugroho dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Jatim yang digelar bersamaan dengan PTBI nasional, Jumat (29/11/2024) malam. 

"Ada beberapa faktor yang mendukung prediksi itu. Antara lain berlanjutnya PSN (Proyek Strategis Nasional-red), digitalisasi sistem pembayaran melalui implementasi QRIS Tuntas dan antar negara termasuk implementasi LCT (Local Currency Settlement)," kata Noor Nugroho. 

Juga ada penguatan ekonomi mitra dagang utama Jatim, penguatan RIRU-IRU-GIRU, serta sinergi berbagai pihak dalam memperkuat promosi investasi dan perdagangan, peluang swasembada pangan dan hilirisasi, serta penguatan green dan blue economy dengan dukungan Jatim sebagai lumbung pangan  Nusantara. "Sinergi sebagai kunci untuk prospek kinerja ekonomi Indonesia dalam memperkuat stabilitas dan transformasi ekonomi nasional termasuk di Jatim," jelasnya.

Sinergi kebijakan perlu terus diperkuat untuk menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks ke depan dan mempercepat transformasi ekonomi nasional agar perekonomian tumbuh lebih kuat. "Dalam kaitan itu, sinergi  bauran kebijakan meliputi lima area penting. Pertama, stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ungkap Noor Nugroho.

Kedua, pertumbuhan domestik melalui peningkatan konsumsi dan investasi. Ketiga, peningkatan produktivitas dan kapasitas ekonomi nasional. Keempat, pendalaman keuangan untuk pembiayaan perekonomian, dan kelima, digitalisasi sistem pembayaran dan ekonomi keuangan digital nasional. 

Untuk mewujudkan pasar uang dan pasar valas (PUVA) yang modern dan maju serta mendukung pembiayaan ekonomi nasional, dalam PTBI 2024, BI juga meluncurkan Blueprint Pendalaman Pasar Uang dan Pasar Valas (BPPU) 2025-2030. "Bauran kebijakan BI pada 2025 akan terus diarahkan untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, dalam sinergi erat dengan kebijakan ekonomi nasional," terang Noor Nugroho. 

Kebijakan moneter BI pada 2025 akan tetap difokuskan pada stabilitas dengan terus mencermati ruang untuk mendorong pertumbuhan (pro-stability and growth). 

Sementara itu, keempat kebijakan Bank Indonesia lainnya yaitu kebijakan makroprudensial, kebijakan sistem pembayaran, kebijakan pendalaman pasar keuangan, dan kebijakan ekonomi keuangan inklusif dan hijau akan terus diarahkan untuk dan sebagai  bagian dari upaya bersama dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional (pro-growth). 

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam sambutan di PTBI 2024 nasional yang disiarkan secara online dalam kesempatan yang sama, menyampaikan optimisme BI bahwa perekonomian Indonesia kedepan akan semakin baik. "Namun dengan tetap mewaspadai sejumlah tantangan-tantangan global yang meningkat. BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tetap kuat pada kisaran 4,8 persen - 5,6 persen, dan akan terus  meningkat menjadi 4,9 persen - 5,7 persen pada 2026 didukung oleh konsumsi swasta, investasi, dan kinerja ekspor yang cukup baik," beber Perry. 

Inflasi akan tetap terkendali dalam  rentang sasaran 2,5±1 persen pada 2025 dan 2026 didukung konsistensi kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). 

Stabilitas eksternal dan sistem keuangan tetap terjaga, disertai  digitalisasi yang terus berkembang pesat. Kedepan, lima tantangan global perlu terus dicermati dan diantisipasi yakni perlambatan dan divergensi pertumbuhan ekonomi global, penurunan inflasi dunia yang lambat, suku bunga negara maju  yang masih akan bertahan tinggi, kuatnya mata uang dolar AS, serta pelarian modal dari emerging markets ke negara maju.

BI juga akan terus menempuh transformasi kelembagaan secara menyeluruh untuk membangun lembaga bank sentral yang kredibel, profesional, bertata kelola kuat dan transparan.

"BI juga akan terus memperkuat perannya sebagai pelopor dan penggerak ekonomi dan keuangan syariah sebagai sumber baru pertumbuhan ekonomi nasional," pungkas Perry. 
(KS-5)

Komentar