Snowden, pengkhianat atau bukan ?

WASHINGTON (WIN): Kasus pembocoran rahasia negara khususnya terkait proses pengintaian dengan sistem perangkat lunak PRIMS yang dilakukan oleh badan intelejen AS dimana proses pengungkapannya melalui media diinisiasi oleh mantan kontraktor intelijen AS Edward Snowden telah menimbulkan kegemparan public internasional  termasuk menimbulkan kegaduhan diplomatic serius.

Berbagai respon yang muncul sangat beragam, bahkan sejumlah Negara di Uni Eropa merasa gusar akan upaya yang dinilai bersifat ‘illegal’ tersebut sehingga perlu melakukan protes khusus kepada pemerintah AS atas tindakan yang diketahui atas hasil pembukaan kotak Pandora yang dilakukan oleh Edward Snowden.

Namun ditengah polemik itu Voice Of America yang dikutip Whatindonews.com pada Minggu (11/8/13) memberikan laporan khusus terkait membahas soal perdebatan mengenai apakah tindakan Edward Snowden dapat disebut sebagai pengkhianatan atau malah sebaliknya?

Baru-baru ini Gedung Putih membatalkan pertemuan yang rencananya dijadwalkan pada September 2013 antara Presiden Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Salah satu alasan yang diberikan adalah keputusan Moskow untuk memberikan suaka kepada seorang warga Amerika yang membocorkan informasi rahasia.

Mantan intelijen kontraktor Edward Snowden, diburu Amerika Serikat atas tuduhan spionase setelah ia membocorkan informasi mengenai bagaimana National Security Agency (NSA) memantau secara rahasia komunikasi telepon dan internet domestik dan internasional.

Snowden kini berada di Rusia setelah menghabiskan lebih dari sebulan di daerah transit dari bandara Moskow. Tapi kasusnya telah memicu diskusi di AS mengenai isu pengkhianatan. Dengan kata lain, apakah Snowden seorang pengkhianat bagi Amerika Serikat?

Bagi John Bolton, mantan duta besar AS untuk PBB, jawabannya cukup jelas. "Saya menganggap ia berkhianat. Ia telah mengambil rahasia penting dari Amerika Serikat, tidak diragukan lagi beberapa diberikannya ke Cina, beberapa ke Rusia - mungkin seluruhnya ke Rusia dan Cina kita tidak tahu," ujar Bolton kepada VOA.

"Sebagian orang mengatakan yang ia lakukan bukanlah spionase, karena spionase hanya terjadi ketika Anda memberikan rahasia kepada satu negara," lanjut Bolton. "Menurut saya, membocorkannya kepada publik lebih parah daripada spionase, karena sekarang ada 190 negara yang tahu rahasia Amerika."

David Barrett, seorang ahli keamanan nasional di Villanova University, tidak sepaham. "Saya akan menganggapnya sebagai pembelot. Ada banyak nama yang berbeda yang digunakan untuk menggambarkan dirinya: pembocor rahasia (whistle blower), dan sebagainya, "kata Barrett. "Tentu, saya akan menyebut ia sebagai pembelot. Perjanjiannya sebagai seseorang yang bekerja untuk sebuah badan intelijen adalah sesuatu yang serius, ia setuju untuk menjaga berbagai rahasia negara. Saya pikir itu adalah hal yang sangat serius, karena ia (Snowden) meninggalkan negara ini dan mengungkapkan rahasia tersebut."

Snowden menerima visa suaka sementara dari Pemerintah Rusia pada Kamis, 1 Agustus.

Pembelot, pengkhianat atau pembocor rahasia?

Departemen Kehakiman AS telah mengajukan tuntutan pidana terhadap Snowden, di antaranya: pencurian properti pemerintah, komunikasi tidak sah mengenai informasi pertahanan nasional dan komunikasi informasi intelijen yang diklasifikasikan.

Snowden mencoba untuk membenarkan tindakannya dengan mengatakan salah satu alasan ia membocorkan dokumen adalah untuk memicu wacana mengenai program rahasia pemerintah AS memata-matai.

Stephen Vladeck, pakar hukum keamanan nasional di American University College of Law, mengatakan wacana yang bergulir saat ini tidak akan ada jika bukan karena Snowden. "Menurut saya, wacana tersebut positif," ujarnya. "Pada dasarnya, jika seseorang bertanya 'adalah Edward Snowden seorang kriminal atau pembocor rahasia,' saya akan mengatakan 'ya,' ia dua-duanya."

Namun ia menambahkan, "Kita harus ingat bahwa kadang-kadang melakukan apa yang legal dan melakukan apa yang benar, belum tentu hal yang sama," kata Vladeck.

Definisi pengkhianatan

Aziz Huq, pakar keamanan nasional dan hukum konstitusi di University of Chicago, mengatakan satu hal yang pasti: Edward Snowden bukanlah pengkhianat. "Kami memiliki definisi yang sangat sempit mengenai pengkhianatan dalam hukum Amerika," kata Huq. "Dan itu adalah definisi yang tertanam, bukan hanya dalam undang-undang federal, namun tertanam dalam Konstitusi. Dan mengacu pada sesuatu yang spesifik sebagai sebuah 'bentuk perbuatan yang disengaja untuk membantu musuh pada saat perang.”

Sebagai contoh, kata Huq, orang-orang Amerika yang berjuang dengan tentara Nazi adalah pengkhianat, dan ada penuntutan pengkhianatan dan eksekusi dalam Perang Dunia II. "Orang terakhir yang didakwa atas pengkhianatan, adalah seseorang bernama Adam Gadahn, seorang warga Amerika, yang bergabung dengan al-Qaida dan menjadi salah satu juru bicara bahasa Inggris mereka. Ada argumen yang sangat kuat untuk mendakwanya di bawah undang-undang pengkhianatan karena dengan sengaja, ia membantu musuh Amerika Serikat. Kriteria tersebut tidak ada dalam kasus Snowden."

Huq mengatakan ada sesuatu yang "luar biasa tidak pantas untuk menggunakan kata 'pengkhianat' bagi seseorang yang telah mengungkapkan informasi yang tidak diragukan lagi, relevan bagi kepentingan publik."

Mayoritas warga Amerika tampaknya setuju dengan Huq. Baru-baru ini, jajak pendapat Quinnipiac University mengungkap 55% responden percaya Snowden adalah seorang pembocor rahasia, tapi ia bukan seorang pengkhianat. (win7)

Komentar