Rudi Rubiandini, terpeleset minyak
Dikenal genius dan sederhana

SURABAYA (WIN): Penangkapan dan penetapan tersangka yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Rudi Rubiandini menjadi kejutan pada Idul Fitri tahun ini. Bagaimana tidak, baru juga sehari lepas dari kepenatan libur panjang Hari Raya Idul Fitri, rakyat Indonesia dikejutkan dengan penangkapan pada Selasa (13/8/13) malam itu.
Hiruk pikuk penangkapan Rudi Rubiandini memang terkesan istimewa. Hampir semua tokoh nasional mengaku kaget dengan fakta tersebut. Rata-rata tak menyangka Rudi akhirnya berubah haluan, berani dan mau mempertaruhkan nama baiknya selama ini hanya untuk sebuah suap. Siapa sebenarnya Rudi Rubiandini?
Prof. Dr.-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. lahir di Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat pada 9 Februari 1962 itu cukup dikenal di lingkungan akademisi dan perminyakan nasional. Ia pernah menyandang gelar sebagai dosen terbaik/teladan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1994 dan 1998.
Setelah menyelesaikan jenjang sarjana perminyakan di Institut Teknologi Bandung pada 1985, Rudi muda melanjutkan studi pascasarjananya di Technische Universitat Clausthal, Jerman dan meraih gelar doktor pada 1991. Gelar guru besar Fakultas Teknik Pertambangan ITB diraihnya pada 2010.
Sepak terjang dan kemampuannya yang istimewa di bidang perminyakan mnarik perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Rudi akhirnya masuk ke lingkaran birokrasi saat diangkat Presiden SBY sebagai Wakil Ketua TP3M Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral ESDM hingga Deputi Pengendalian Operasi BPMigas pada 2011. Dia diminta ikut memikirkan masalah perminyakan nasional.
Di kementrian itu, kariernya cemerlang, sehingga Presiden SBY mengangkatnya sebagai Wakil Menteri ESDM pada 14 Juni 2012, menggantikan Wamen ESDM Prof. Widjajono Partowidagdo, M.Sc, M.A, Ph.D yang meninggal saat mendaki Gunung Tambora, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Sekitar tujuh bulan menjadi orang kedua di Kementrian ESDM, Rudi akhirnya mendapat tugas baru sebagai Kepala SKK Migas. Saat itu, Mahkamah Kosntitusi (MK) membubarkan BP Migas. Penempatan itu tidak aneh, karena Rudi pula lah yang konsisten dan teguh menentang keputusan MK membubarkan BP Migas.
Rudi juga dikenal idealis memegang teguh pendapat dan penilaiannya soal perminyakan nasional berdasarkan ilmu perminyakan yang dikuasainya. Dia teguh menilai kasus volcano mud di sumur Banjar Panji-1 di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, bukanlah akibat gempa yang saat itu melanda Yogyakarta dan sekitarnya. Luapan Lumpur panas disebutnya akibat kesalahan proses pemboran yang dilakukan PT Lapindo Brantas.
Pribadi sederhana
Kesederhanaan selalu mewarnai kehidupan Prof. Dr.-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. Karena itu, tidak heran bila pelbagai kalangan terkejut, tertegun dan tak meyangka karirnya terancam hancur akibat kasus suap.
Meskipun mencatatkan harta kekayaan ke KPK senilai Rp8 miliar lebih saat menjabat sebagai Wamen ESDM, tetapi kehidupan Rudi tetap sederhana.
Sekadar catatan, saat mudik Lebaran ke kampung asalnya di Cieunteung Nomor 116, Kelurahan Argasari, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, pekan lalu, Rudi lebih memilih transportasi massal KA ekonomi Pasundan.
“Yang penting sampai tujuan. Saya pilih kereta karena perjalanan lebih nyaman dan tidak terkena macet,” kata Rudi saat ditemui di Kantor KPK, Jakarta, Rabu (14/8/13).
Sejumlah kerabat dan tetangganya di kampugn mengaku kaget saat mendengar Rudi ditangkap KPK. Sebab, sejak kecil hingga menjadi pejabat, Rudi dikenal sebagai pribadi yang tak sombong dan sederhana. Dia terbiasa bercengkerama dengan kalangan bawah di kampungnya, termasuk para penarik becak.
Tidak sombong, berkepribadian sederhana dan berjiwa sosial. Setiap ia pulang ke rumah orangtuanya, Rudi membantu tetangganya yang kurang mampu. Setiap pulang ke Tasikmalaya, Rudi disebut tak pernah memperlihatkan kemewahannya dan terbiasa hanya mengendarai mobil Toyota Kijang.
Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjad Wibowo tak menyangka dan terkejut Profesor Rudi Rubiandini yang dianggapnya sebagai senior sekaligus guru bidang perminyakan harus berurusan dengan KPK.
“Sebenarnya saya terkejut ketika Prof Rudi bersedia masuk BPMigas bahkan akhirnya menjadi Wamen. Saya menilai beliau tidak cocok dengan kebijakan pemerintahan sekarang. Idealnya, orang-orang seperti kami ini tetap di luar pemerintahan. Sebab beliau adalah sosok yang idealis,” ujar Dradjad.
Keterkejutan yang sama dikemukakan Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung. Sebagai alumnus ITB, Pramono menilai perilaku Rudi itu tak hanya mencoreng wajah birokrasi, tapi juga akademisi.
Pramono mengatakan, Rudi merupakan salah satu akademisi terbaik Indonesia, karena dua kali menyandang dosen terbaik/teladan ITB. “Jika melihat latar belakangnya, Rudi adalah profesor muda yang direkrut dari dunia pendidikan karena kepandaian dan kapasitasnya. Sayang Rudi terjebak pada birokrasi yang membuatnya berpeluang melakukan korupsi.”
Kini, sosok idealis yang sebenarnya bisa diharapkan memperbaiki kondisi negara dari sektor migas sudah luruh. Rudi dianggap sebagai penerima suap dan dijerat Pasal 12 huruf a dan b atau Pasal 5 Ayat 2 atau Pasal 11 UU Tipikor jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1. Sungguh ironis jalan hidup sang profesor. Sosok idealis dan konsisten yang akhirnya terpeleset minyak.(win10)