MBMA Bukukan Pendapatan USD1,4 Miliar di 2025, Hilirisasi Nikel Makin Kencang

KANALSATU — PT Merdeka Battery Materials Tbk (BEI: MBMA) menutup Kuartal IV 2025 dengan kinerja solid di tengah tekanan harga nikel global. Sepanjang 2025, Perseroan membukukan pendapatan tidak diaudit sekitar USD1,4 miliar, yang ditopang lonjakan volume produksi, peningkatan produktivitas, serta percepatan integrasi hilir di seluruh rantai nilai nikel.
Direktur Utama MBMA Teddy Oetomo menegaskan, dari sisi operasional tambang, produksi nikel menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Tambang PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) mencatat produksi 7,0 juta wet metric tonnes (wmt) saprolit, tumbuh 42 persen secara tahunan, serta 14,7 juta wmt limonit, naik 45 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja tersebut didorong oleh ekspansi armada tambang, optimalisasi logistik, dan efisiensi proses penambangan.
Meski menghadapi kenaikan royalti dan biaya bahan bakar seiring implementasi kebijakan B40, Perseroan mampu menjaga struktur biaya tetap terkendali berkat skala produksi yang lebih besar.
Operasi limonit juga terus menghasilkan margin yang stabil, mencerminkan efisiensi operasional dan manfaat ekonomi dari peningkatan volume.
Pada segmen pengolahan, produksi Nickel Pig Iron (NPI) sepanjang 2025 mencapai 73.871 ton nikel, sejalan dengan panduan tahunan. Margin NPI tercatat meningkat secara tahunan, didukung oleh biaya produksi yang lebih rendah serta peningkatan pasokan bijih dari internal.
"Sementara itu, produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) kembali berjalan sejak Oktober 2025 setelah Perseroan mengamankan kontrak offtake yang ekonomis," ujar Teddy.
Sepanjang tahun, MBMA membukukan produksi 19.998 ton HGNM, dengan pemulihan margin yang signifikan meski volume masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Upaya hilirisasi juga terus dipercepat. PT ESG New Energy Material berhasil memproduksi 7.177 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) pada Kuartal IV 2025, seiring mulai beroperasinya Feed Preparation Plant dan pipa slurry dari tambang SCM.
Di sisi lain, proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) telah mencapai 83 persen penyelesaian, dengan commissioning jalur produksi pertama ditargetkan pada paruh kedua 2026. Proyek ini dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 90.000 ton MHP per tahun.
Operasi di pabrik AIM, yang dioperasikan oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia, juga berjalan stabil. Proses commissioning fasilitas klorida dan pabrik katoda tembaga terus berlanjut, dengan capaian produksi 321 ton pelat katoda tembaga berkualitas standar London Metal Exchange (LME).
Memasuki 2026, MBMA optimistis melanjutkan tren pertumbuhan dengan target pengiriman bijih saprolit sebesar 8–10 juta wmt dan penjualan bijih limonit 20–25 juta wmt, bergantung pada persetujuan RKAB. Perseroan juga menargetkan produksi NPI 70.000–80.000 ton, HGNM 44.000–48.000 ton, serta produksi MHP dari PT ESG sebesar 27.000–30.000 ton.
Dari aspek keberlanjutan, sepanjang 2025 MBMA terus memperkuat kinerja ESG melalui peningkatan keselamatan kerja, efisiensi energi dan air, pengurangan emisi, pengembangan sumber daya manusia, serta keterlibatan aktif dengan masyarakat sekitar.
Berbagai penghargaan ESG diraih sebagai pengakuan atas komitmen Perseroan terhadap tata kelola yang baik dan operasi yang bertanggung jawab.
"Disiplin eksekusi di seluruh rantai nilai, mulai dari penambangan hingga hilirisasi, menjadi fondasi penting bagi fase pertumbuhan berikutnya sekaligus memperkuat peran strategis Indonesia dalam mendukung transisi energi global," pungkasnya. (KS-5)