Les Miserables, tembang pilu Revolusi Perancis

Resensi Film

Salah satu adegan di Les Miserables

(WIN) : - Kehadiran filmLes Miserables dalam industri perfilman dunia pada 2013 ini, merupakan sebuah kabar baik bagi para penggemar drama musikal. Namun, juga merupakan kabar mengejutkan bagi pecandu film yang tidak menyukai drama musikal dan merasa skeptic terhadap film yang diangkat dari novel historikal karya Victor Hugo ini sebelum menonton. Sebab penilaian apatis dan anti pati yang muncul saat di pintu masuk bioskop akan dihancurkan oleh penampilan prima para pemain, serta lagu dan cerita yang begitu memilukan hati.

 Film drama musikal memang bukan hal baru dalam perfilman dunia  The Sound of Music (1965), The Moulin Rouge (2001), The Panthom of The Opera (1989), Dream Girls (2006), dan Mama Mia! (2008) adalah beberapa film drama musikal yang meraup keuntungan besar dari pemutaran film di seluruh dunia, sekaligus meraih berbagai penghargaan internasional.

 Namun, Les Miserables yang berhasil merebut tiga penghargaan Golden Globe 2013 untuk kategori Film Terbaik, Aktor Terbaik (Hugh Jackman), dan Aktris Pendukung Terbaik (Anne Hathaway) ini merupakan film remake yang kesembilan. Sedangkan filmnya yang pertama diproduksi tahun 1934 dalam sajian hitam putih. Film yang disutradai Raymond Bernard ini dibintangi oleh Harry Baur sebagai Jean Valjean dan aktor watak Charles Vanel sebagai Inspecteur Javert. Dan, film terakhir diproduksi tahun 1998 dengan aktor Liam Neeson (Jean Valjean) dan Geofrey Rush (Inspecteur Javert), sementara sutradara yang menangani Bille August.

Mlihat jumlah remake film yang dialami Les Miserables, secara filmis para pengamat dan pecandu film sudah mampu memprediksikan, bahwa film berseting Prancis pada abad ke-19 ini memiliki banyak kelebihan dan keistimewaan. Dan, film yang diangkat dari novel klasik terbit tahun 1862 ini, kisahnya  diawali dengan pembebasan seorang narapidana bernama Jean Valjean (Hugh Jackman). Dia dipenjara selama 19 tahun, hanya karena mencuri secuil roti milik bangsawan. Dia mencuri, karena dia tak ingin mendengar adiknya merintih kelaparan sembari membekap perutnya yang tipis.

 Status Valjean sebagai mantan narapidana dan orang yang berbahaya, membuat pria berpostur tinggi tegap ini kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan dan tempat menginap. Warga kota tidak menerimanya. Hingga suatu malam ia bertemu dengan seseorang dan mengalami sebuah kejadian tak terlupakan yang kelak mengubah hidupnya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Bishop (Colm Wilkinson) yang mengubah hidupnya.

 Delapan tahun kemudian, Valjean meraih kesuksesan. Dia berhasil menjadi seorang wali kota dan pemilik sebuah pabrik. Namun, di balik kesuksesannya itu, sesungguhnya Valjean telah lari dari masa percobaannya. Dia pun menjadi buronan yang terus dibuntuti oleh Inspektur Javert (Russell Crowe).

 Di pabrik miliknya, Valjean bertemu dengan Fanine (Anne Hathaway), salah seorang pekerja yang dipecat akibat fitnah yang dilontarkan rekan-rekan kerjanya. Perasaan bersalah meliputi Valjean yang kemudian merawat dan membesarkan anak perempuan Fantine, Cosette muda (Isabelle Allen). Hidup dalam pelarian, keduanya menemukan beragam peristiwa menegangkan, seperti revolusi yang mempertemukan Cosette dewasa (Amanda Seyfried) dengan Marius (Eddie Redmayne).

 Film berdasarkan teater musikal berjudul sama yang disutradarai Alain Boubil, Claude-Michel Schonberg, dan Herbert Kretzmer ini, diadaptasi sutradara Tom Hooper dengan perubahan yang drastis dibanding adaptasi pendahulunya pada 1998 silam. Hampir seluruh dialog dilakukan dalam nyanyian. Banyak di antara lagu dinyanyikan secara solo oleh Jackman, Hathaway, dan Crowe. Penampilan mereka pun dengan sukses menggugah emosi.

 Setiap lagu yang dinyanyikan Jackman, seperti memberi landasan lebih kuat untuk perubahan yang dilakukannya dalam hidup. Sama halnya dengan nyanyian Crowe yang menjelaskan secara mendetail emosi di balik akhir kisah antara Valjean vs Javert. Namun, penampilan Hathaway termasuk paling memorable, khususnya ketika menyanyikan lagu “I Dreamed a Dream”. Adegan tersebut bagaikan siksaan emosional yang begitu dalam di paruh awal film.

 Para pemain menyanyikan secara langsung dialog dengan iringan musik yang diboyong ke lokasi syuting. Claude-Michel Schonberg menyajikan 50 lagu, termasuk "I Dreamed A Dream" yang Dinyanyikan Fantine (Anne Hathaway), "Who Am I" dinyanyikan Valjean (Hugh Jackman), "Stars" dinyanyikan Javert (Russell Crowe), dan "On My Own" yang dinyanyikan Ephonine (Samantha Barks).

 Performa Jackman dan Crowe pun patut diperhatikan. Setelah lama melihat Jackman berperan sebagai mutan Wolfrine berwatak dingin dalam X-Men dan baru-baru ini Crowe bermain sebagai seorang pengembara misterius dengan ekspresi datar dalam The Man With the Iron Fists, film ini seakan menjadi lahan bermain yang tepat bagi keduanya untuk menunjukkan kelihaian aktingnya.

 Di samping ketiga pemeran di atas, kehadiran Sacha Baron Cohen dan Helena Bonham Carter sebagai Thénardier dan Madame Thénardier menjadi tambahan yang menghibur. Begitu pula dengan Gavroche (Daniel Huttlestone), salah satu anak jalanan yang turut berperan dalam gerakan revolusi, yang tampil prima.

 Meskipun dipenuhi nilai-nilai positif, film ini tentu juga memiliki kekurangan. Sayangnya, kekurangan tersebut justru berhubungan dengan eksekusi dialog dalam nyanyian yang tumpang-tindih satu sama lain. Beberapa kali terdapat adegan yang menampilkan dua karakter atau lebih yang menyanyikan dua lirik berbeda. Di bagian akhir lagu, keduanya bernyanyi dengan lirik yang sama sekali berbeda, tetapi dalam waktu yang bersamaan. Pesan yang disampaikan pun menjadi tumpang tindih dan sulit untuk dicerna secara langsung.

 Dalam beberapa wawancara media, Jackman mengaku merasakan pengalaman luar biasa berperan sebagai Jean Valjean. Tak seperti proses syuting di film-film lainnya, pada film ini ia mendapat kebebasan seluas-luasnya utuk mengembangkan aktingnya, menginterpretasikan dialog dalam lagu, dan memasukkan emosi ke dalamnya.

 Sebagai cerita drama musikal yang telah berusia lebih dari 26 tahun, Hooper membuat film Les Miserables hadir dalam medium layar lebar yang memiliki konteks kekinian. Kritikus USA Today bahkan menyebut Hooper dapat menyesuaikan dengan ruang lingkup panggung musik populer.

 Selebihnya, film ini dapat dinilai sebagai salah satu karya terbaik Hooper. Tidak hanya menyajikan sebuah drama musikal yang indah, sutradara kelahiran Inggris itu juga berhasil menonjolkan kemampuan Jackman, Crowe, dan Hathaway yang sering kali tersembunyi di balik karakter-karakter ala superhero yang mereka mainkan belakangan ini. (WIN5)

Komentar