White House Down, elegi cinta mesin pembunuh

Oleh: Prima SP Vardhana, peresensi film

(WIN):  Gedung Putih atau White House adalah rumah kepresidenan Presiden Amerika Serikat. Gedung ini terletak di 1600 Pennsylvania Avenue di Washington, DC. Lebih dari satu abad, gedung ini menjadi tempat tinggal resmi presiden dan keluarganya selama masa jabatannya sebagai presiden. Saat seorang presiden baru terpilih, presiden yang lama segera pindah. Gedung ini memiliki kantor di mana presiden menjalankan pemerintahan, yaitu ruang oval atau Oval Room.

Kehadiran Gedung Putih dalam sebuah film, pada awalnya hanya sebagai setting pelengkap adegan. Pada tahun 2013, keberadaan Gedung Putih mengalami peningkatan. Menjadi obyek tema cerita, yaitu sebagai obyek sasaran serangan teroris. Gedung putih diserang dan diduduki teroris kuning dari Korea Selatan dalam film Olympus Has Fallen (OHF) yang disutradarai Antoine Fuqua. Namun serangan itu akhirnya berhasil digagalkan oleh agen Secret Service Mike Banning yang diperankan Gerarl Butler.

Kisah yang sama juga terjadi dalam White House Down (WHD) yang kini hadir di semua gedung bioskop di seluruh dunia. Akhir film yang disutradarai oleh Roland Emmerich itu tentu tidak sulit ditebak. Film yang dibintangi duet aktor Channing Tatum dan Jamie Foxx akan berakhir dengan gagalnya serangan para teroris, yang ingin menghacurkan Gedung Putih dan membunuh Presiden AS.

Dengan tematis cerita yang hampir sama dengan OHF, maka penggarapan WHD memiliki tantangan tersendiri dalam konsep pengemasannya. Sutradra harus memiliki sebuah formula yang cerdas, sehingga Emmerich yang sukses dalam penggarapan Independence Day, Godzilla, The Patriot, The Day After Tomorrow, 2012 dan Anonymous harus memeras otak. Targetnyata WHD menjadi sebuah film yang mengupas tentang kebencian, ketidakpuasan, dan proyeksi dari sebuah ledakan dendam. Namun WHD memiliki sebuah pesan universal yang tak akan pernah dilupakan penontonnya.

Tak pelak lagi, WHD pun menjadi sebuah film yang penuh simbolik-simbolik kehidupan cukup banyak dan kompleks, sehingga membuat penontonnya memiliki persepsi berbeda antara satu dengan lainnya. Secara visual, WHD menyajikan sebuah konflik ambisi berkaitan dengan wacana besar seperti perdamaian dunia. Lewat wacana besar itu, secara visual penonton dipuaskan dengan aksi-aksi yang ekstrem, ledakan-ledakan besar dan terus-menerus, serta pemandangan tentang Gedung Putih beserta sejarahnya yang fenomenal. Namun, segala hal besar itu sebenarnya membingkai sebuah cerita sederhana yang bisa langsung mengena ke rasa para penonton, yaitu hubungan antara ayah dan anak perempuannya.

Dengan naskah yang ditulis oleh James Vanderbilt (The Amazing Spider-Man dan 2012), kemasan WHD berkisah mengenai John Cale (Channing Tatum), seorang anggota kepolisian di Washington DC, yang ditugaskan mengawal Ketua Senator, Eli Raphelson (Richard Jenkins). Demi memperbaiki hubungannya dengan putrinya, Emily (Joey King) yang penggemar berat Presiden James Sawyer (Jamie Foxx), maka Cale melamar menjadi pengawal presiden, namun John ditolak. Sesi wawancara bersama Agent Carol Finnerty (Maggie Gyllenhaal) telah mengubur impian tersebut. Mantan pasukan khusus Marinir AS yang dinas di Afghanistan itu dinyatakan masih belum memenuhi kualifikasi pegawai yang dibutuhkan Secret Service.

MINIM DARAH

Tidak ingin mengecewakan puterinya yang turut hadir dalam proses wawancara, Cale pun mengajak Emily mengikuti tur mengelilingi White House. Di tengah turnya, Gedung Putih tiba-tiba diserang sepasukan teroris terlatih bersenjatakan senapan tempur canggih. Ledakan bom terjadi di mana-mana, pasukan keamanan ditembak mati. Keadaan kacau. Para peserta tur disandera. Itu membut Cale bak makan buah simalakama. Dia terjepit di antara dua prioritas, menyelamatkan Presiden AS dan dunia atau anak perempuan satu-satunya.

Film ini kemudian menekankan dirinya pada adegan-adegan aksi laga. John sebagai sosok jagoan bersama-sama dengan Presiden Sawyer berusaha untuk menggagalkan aksi konspirasi. Harus diakui, pengemasan dalam White House Down tidak sekadar mengandalkan aksi dan efek khusus. Ada kepiawaian sutradara dan editor mengemas cerita, termasuk adanya motivasi dan konspirasi dari kalangan tertentu yang membuat cerita sederhana film ini menjadi lebih kompleks.

Sebagai pemuas mata, penonton tidak hanya disuguhkan lorong-lorong Gedung Putih yang penuh sejarah, tetapi juga sistem keamanan negara Amerika Serikat. Lewat lorong-lorong dan cerita Emily terbentang sejarah Gedung Putih sebagai salah satu simbol patriotisme AS. Selain itu, bagaimana rumitnya sistem keamanan, bagaimana penggunaan tentara bahkan untuk mengamankan orang nomor satu di negara AS itu tidak seperti membalik telapak tangan.

Tema cerita yang ditawarkan sepintas lalu mirip OHF. Ini terproyeksi dari beberapa kemiripan yang begitu menonjol. Misalnya komponen cerita yang melibatkan sebuah terowongan jalan keluar rahasia, seorang anak yang memegang peranan penting pada pergerakan kedua pihak yang berseteru hingga kehadiran kode rahasia dan ancaman nuklir untuk menghancurkan dunia.

Namun, WHD sama sekali tidak pernah menghadirkan presentasi ceritanya dengan jalan yang benar-benar dramatis. Sutradara Emmerich dan skenario Vanderbilt jelas tahu, bahwa presentasi cerita yang mereka sajikan memiliki nilai absurditas cukup tinggi dengan intensitas cerita bergantung sepenuhnya pada tampilan visual yang penuh dengan ledakan. Kondisi ini yang membuat keduanya memilih untuk menyajikan WHD dengan elemen komedi yang kuat, khususnya datang dari dialog interaksi antara duo karakter utamanya, Cale dan Sawyer.

Dari segi cast, Channing Tatum mampu menggunakan starlight-nya untuk menjadi sesosok Ayah yang heroik. Tatum sekali lagi mencuri perhatian penontonnya. Dia berhasil membuktikan bahwa dirinya seorang aktor yang lihai dalam memilih peran yang sesuai dengan kapabilitas aktingnya. Pesonanya yang kuat juga mampu dieksplorasi sedemikian rupa untuk membuat perannya, sebagai seorang pahlawan sekaligus ayah bagi puterinya terlihat begitu meyakinkan.

Sama halnya dengan Jamie Foxx. Karakter President Sawyer memang jauh dari gambaran para Presiden Amerika Serikat yang banyak digambarkan di berbagai film Hollywood. Namun, dengan kemampuan aktingnya yang handal, karakter President Sawyer yang memegang teguh prinsip cinta perdamaian mampu hadir begitu hidup dan menyegarkan untuk diikuti.

Beberapa nama terlihat penampilannya mampu mencuri perhatian, seperti Jason Clarke dengan perannya sebagai pemimpin teroris yang brutal, Nicholas Wright sebagai penjaga tur keliling White House yang hadir dengan dialog-dialog penuh humor. Demikian pula Joey King yang berperan sebagai puteri dari karakter John Cale. Sedangkan Richard Jenkins, James Woods dan Maggie Gyllenhaal juga hadir meyakinkan lewat peran mereka sekaligus cukup memperkokoh kualitas departemen akting film ini.

Terakhir, film ini adalah bentuk nasionalisme AS. Walaupun memang dalam bentuk simbol-simbol yang terkait dengan lokasi film, yaitu Gedung Putih. Tentunya menggelitik untuk ditanyakan kepada Roland yang berkebangsaan Jerman, bagaimana ia membuat film ini dalam konteks dunia global yang penuh ancaman terhadap AS. Menurut Roland, Amerika Serikat menjadi sasaran banyak pihak. Dengan status sebagai satu-satunya negara adidaya yang tersisa, dan anggaran belanja militer AS yang sangat besar. Nilainya dua kali anggaran militer lima negara yang ada di bawahnya. Kondisi itu membuat AS menjadi target kebencian negara-negara lain.

Beruntunglah. Emmerich setidaknya tetap menyajikan sebuah film aksi yang non-stop. Totalitas sekali dalam mengerjakan adegan aksi, meski pada beberapa adegan terasa konyol. Misalnya, adegan kejar-kejaran di dalam Istana Presiden dengan mobil. Dengan teknik penggarapan full CGI, ledakan, dan beragam sentuhan yang sangat tipikal khas blockbuster movies. Yap. Inilah kekuatan Emmerich dari dulu. Penggunaaan visual effect yang tak main-main kalau boleh saya bilang. Dan, penggunaan Rating PG-13 membuat film ini minim darah dan sadisme, yang sangat diharamkan oleh lembaga sensor film di AS dan negara-negara Eropa.

WHITE HOUSE DOWN (2013)

Sutradara;

Roland Emmerich

Produce; 

Roland Emmerich, Brad Fischer, Larry J. Franco, Laeta Kalogridis, dll

Penulis Skenario;

James Vanderbilt

Bintang;

Channing Tatum, Jamie Foxx, Maggie Gyllenhaal, Jason Clarke, dll

Penata Musik;

Harald Kloser, Thomas Wanker

Cinematografi;

Anna Foerster

Editor;

Adam Wolfe Studio Mythology Entertainment/Centropolis Entertainment

Durasi Film;

137 minutes   
Komentar