HM Sampoerna cetak pendapatan Rp31,8 triliun

KANALSATU - PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna/IDX: HMSP) mengumumkan, pendapatan bersih (tidak termasuk cukai) dalam sembilan bulan pertama tahun 2016 mencapai Rp 31,8 triliun. Artinya, pendapatan perusahaan rokok terbesar di Indonesia tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 4,9% dari Rp30,3 triliun pada periode yang sama tahun 2015.
"Begitu juga dengan segmen produk dan pangsa pasar, Sampoerna juga mampu mempertahankan posisi," kata Presiden Direktur Sampoerna Paul Janelle, seperti yang dikutip dalam keterangan pers nya, Rabu (26/10/16).
Paul menjelaskan pada kuartal III/2016, kedudukan Sampoerna untuk semua segmen dan pangsa pasar mencapai 30,1% di segmen sigaret kretek mesin (SKM). Hal yang sama juga terjadi pada segmen sigaret kretek tangan (SKT) yang tetap terjaga di puncak kepemimpinan sebesar 38,2%. “Untuk segmen sigaret putih sebesar 79%," jelasnya"
Indikator ini menandakan, pangsa pasar Sampoerna pada kuartal III/2016 mencapai 34,5% atau meningkat 0,4% dari pangsa pasar di kuartal ke II. Pertumbuhan pangsa pasar ini didorong oleh kinerja yang kuat di segmen sigaret kretek mesin full-flavor. "Kami bangga, Sampoerna tetap menjadi pemimpin pasar di Indonesia,"tutur Paul.
Sukses ini, lanjut Paul, berkat fundamental perseroan yang kuat, melalui kepercayaan dari para rekanan dan pemangku kepentingan, termasuk dedikasi dan kerja keras dari para karyawan. Paul meyakini, meski industri saat ini sedang berada dalam situasi sulit, Sampoerna akan melanjutkan keberhasilan ini melalui portofolio merek yang kuat. “Yang mencakup sejumlah merek andalan kami, seperti A Mild, Dji Sam Soe, dan Marlboro,” ujarnya.
Bagaimana tarif cukai dengan volume produksi? Paul mengaku, telah mengantisipasi penurunan volume industri hasil tembakau secara keseluruhan sebesar 1-2% di tahun 2016, terutama yang terimbas kenaikan tarif cukai rata-rata tertimbang sebesar 15%. Menurutnya, industri ini diperkirakan masih akan terus mengalami tekanan, sehubungan dengan kenaikan tarif cukai rata-rata tertimbang sekitar 10%. “Kami sudah mengantisipasinya atas pemberlakuan tarif cukai kepada seluruh pelaku industri mulai tanggal 1 Januari 2017,” katanya.
Beban ini, ungkap Janelle, akan memberikan dampak pada kinerja segmen SKT yang terus mengalami penurunan. Apalagi, kondisi ini seiring dengan peralihan preferensi perokok dewasa dari produk kretek tangan ke kretek mesin.
“Pada kuartal ke-3 tahun 2016, pangsa pasar Sampoerna di segmen SKT turun 0,8% dari periode yang sama di tahun 2015 menjadi 6,6%,” akunya.
Namun demikian, Sampoerna tetap berkomitmen dengan upaya menahan laju penurunan di segmen SKT, termasuk diantaranya melakukan inovasi untuk meningkatkan mutu merek Dji Sam Soe dan Sampoerna Kretek. Upaya tersebut dengan menawarkan harga bersaing untuk produk SKT. “Kami akan investasikan pada merek melalui dukungan pemasaran dan penjualan,” tegas Paul.
Meski kinerja portofolio SKT relatif stagnan, Sampoerna mampu menjaga momentum positif dalam segmen SKM full-flavor, terutama setelah ekspansi geografis yang dijalankan perusahaan untuk merek U Bold pada tahun 2016. Perusahaan juga memperkuat portofolio SKM full-flavor dengan meluncurkan Marlboro Filter Black di 25 kota di Indonesia pada bulan September. "Perokok dewasa di Indonesia menghargai kretek sebagai produk asli Indonesia. Mereka juga mengakui, Marlboro sebagai merek internasional,” tutur Paul.
Dengan peluncuran Marlboro Filter Black, kini perokok dewasa di Indonesia dapat menikmati perpaduan terbaik dari keduanya, meski saat ini proses peluncuran masih berada di tahap awal. Namun, sejauh ini Sampoerna telah melihat hasil yang menggembirakan. "Kami yakin, produk terbaru kami ini akan menciptakan standar bagi segmen sigaret kretek mesin full-flavor," pungkas Paul.(win8)