Geopolitik Memanas, Biaya Produksi Melonjak: APINDO Dorong Penguatan Daya Saing

KANALSATU – Tekanan geopolitik global yang kian memanas mulai terasa hingga ke sektor riil dalam negeri. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menilai, kolaborasi erat antara pelaku usaha dan serikat pekerja menjadi kunci utama untuk menjaga daya saing nasional di tengah lonjakan biaya produksi dan perlambatan ekonomi.
Wakil Ketua Umum DPN APINDO, Sani Iskandar, menegaskan bahwa sinergi lintas pemangku kepentingan harus diperkuat guna menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks. Ia menyebut, hubungan konstruktif antara pengusaha dan pekerja tidak hanya berdampak pada stabilitas industri, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan.
“Kolaborasi antara dunia usaha dan serikat pekerja menjadi fondasi penting untuk menjaga daya saing sekaligus mendorong kesejahteraan,” ujarnya dalam pembukaan Rakerkonprov DPP APINDO Jawa Timur di Kota Batu, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, kondisi ekonomi dan iklim usaha sepanjang 2025 menghadapi tekanan berat, terutama di sektor riil. Pertumbuhan ekonomi dinilai belum optimal dan cenderung tidak merata di berbagai wilayah maupun sektor.
Salah satu pemicu utama adalah dinamika geopolitik global, khususnya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Ketegangan tersebut mendorong kenaikan harga energi dunia yang berdampak langsung pada meningkatnya biaya produksi industri.
Kenaikan harga energi, lanjutnya, turut memicu lonjakan biaya logistik dan bahan baku. Sejumlah sektor strategis seperti industri plastik, makanan dan minuman, hingga nikel mulai merasakan tekanan, terutama dari sisi pasokan.
Di sisi lain, lonjakan harga komoditas juga berpotensi menekan daya beli masyarakat. Padahal, konsumsi rumah tangga selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Ketika konsumsi melemah, maka laju ekonomi secara keseluruhan ikut tertahan.
Dalam konteks domestik, Jawa Timur dinilai memiliki peran strategis sebagai penopang ekonomi nasional. Dengan populasi lebih dari 41 juta jiwa, provinsi ini menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi terbesar di Indonesia.
Kontribusi sektor industri pengolahan di Jawa Timur mencapai sekitar 31 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Selain itu, provinsi ini juga tercatat sebagai kontributor Penanaman Modal Asing (PMA) terbesar ketiga secara nasional, dengan nilai mencapai Rp147 triliun, serta penyumbang PDRB terbesar kedua nasional sekitar Rp3,40 triliun.
"Tak hanya itu, kinerja perdagangan Jawa Timur juga menonjol dengan posisi sebagai kontributor ekspor terbesar kedua nasional, dengan nilai mencapai USD 28,5 miliar," tutur Sani yang Hadir mewakili Ketua DPN APINDO, Shinta W. Kamdani.
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, APINDO menekankan pentingnya peningkatan produktivitas nasional melalui penguatan kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan serikat pekerja.
“Produktivitas harus menjadi fokus bersama. Dengan sinergi yang kuat, kami optimistis daya saing nasional tetap bisa ditingkatkan di tengah tekanan global,” tutup Sani. (KS-5)